Langsung ke konten utama

Mr. Galak

 Mr. Galak


Awal Januari masih tetap dengan gerimis tangisnya. Tidak ada yang berubah. Semuanya terlihat biasa saja. Semuanya berjalan seperti sedia kala. Tidak ada yang istimewa. Bahkan rasanya tidak perlu kehadirannya disambut sedemikian meriah dengan lecutan kembang api yang menghiasi langit tepat di pukul 00.00 wib, seperti yang terjadi tadi malam.

Eh, tidak! Aku tidak mengikuti acara new years itu ya. Aku hanya menyaksikan siaran televisi yang tayang tadi pagi. Tidak sengaja terdengar, bukan berarti aku hobinya menonton acara gosip ya. Oh no! Rasanya aku tidak ada waktu untuk mendengarkan acara yang tidak ada manfaatnya. Eh, kalian jangan tersinggung, ya. Wkwk. 

Awal Januari benar-benar membuat mood-ku tidak baik. Meski sudah ditemani secangkir kopi di cafe SSM. Setiap seduhan, mantap!―begitu logonya, tetap saja ada sesuatu yang mengganggu. Entahlah. Mungkin aku memang benar-benar kesepian.

“Huhf.”  Aku menghembuskan nafas sambil menatap gerimis di luar sana. 

Aku mengamati sekitar. Ternyata tidak ada yang lebih baik keadaannya dariku. Masing-masing dengan kesendirian di temani kesibukan. “Apa ini lagi muisman jomblo, ya?” pertanyaan yang tujuannya untuk menghibur diri. Tapi, semuanya terhenti ketika suara cekikikan mulai terdengar di samping mejaku. Ah, aku baru sadar kalau remaja SMA itu mengisi meja di sampingku.

“Mas, pesan capucino lima, ya.” Salah seorang dari mereka memesan minuman. 

Aku tidak lagi memperhatikan mereka. Aku kembali ke duniaku. Sekejap saja. Tidak lama. Karena...

“Guys, kenapa ya kalau ngeliatin wajahnya serasa ngeliat hantu. Huhu.” Suaranya sedikit halus.

“Kalau lagi jalan, dan di situ ada dia. Udahlah, aku memilih jalan lain aja lagi.” Timpal temannya. Yang ini suaranya sedikit berat.

“Penakut banget, sih. Kalau aku, sih, biasa aja. Bapak itu baik ke aku.” Salah satu temannya membela.

Aku mendengarkan, tidak sengaja sebenarnya. Ya, berhubung lagi galau, enggak apa-apa dong kalau aku ikut menikmati percakapannya. Hehe. Sepertinya suasana SMA lebih menarik untuk dinikmati ketimbang secangkir kopi.

“Huhu. Kamu, kan anak kesayangan pak Aldi. Gimana enggak membela.” Sorak-sorai dari yang lain menghiasi meja itu. Satu dua mata ikut memandang ke meja mereka. Beberapa orang tersenyum singkat. Tapi, tidak dengan aku.

“Deg.” Ada sesuatu yang terkenang ketika mereka menyebutkan nama itu. Aldi. Apakah itu Aldi yang mereka maksud? Apakah pak Aldi itu kak Aldi? Seniorku di waktu SMA.

Sekali lagi aku memandang mereka. 

Aldi. Nama itu menempel seperti diberikan lem ke otakku. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari nama itu, hanya saja, ketika itu...

“Perkenalkan saya Aldi Nur Rasyid. Saya adalah ketua OSIS di sekolah ini. Adik-adik bisa memanggil saya dengan kak Aldi...”

Begitu kira-kira pertama kali aku mengenal kak Aldi. Ketua OSIS yang berwajah menakutkan. Tidak sembrono penampilannya, hanya saja ada aura lain yang membuatku takut untuk memandangnya. Kesan pertamaku, aku takut dengannya. Si Mr. Galak.

“Hari ini adalah hari terakhir kita dalam acara Masa Orientasi Siswa Baru. Nah, kalian semua harus menuliskan kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan. Kemudian, kalian juga tulis siapa saja kakak-kakak yang paling disukai, paling ditakuti, paling baik dan lain-lain. Namanya disamarkan saja ya adek-adek.” Begitu kira-kira panitia MOSB menyampaikan kepada kami.

“Baik, kak,” jawab kami kompak dengan wajah polos yang sebenarnya sudah memiliki jawaban untuk tugas-tugas tersebut. Apalagi berbicara tentang watak kakak seniornya. Haha.

Aku, dengan semangat mengambil pena dan buku. Di kertas selembar itu, aku mengadukan segalanya dan tak terkecuali Mr. Galak itu. Yah, dia adalah kakak yang paling berwibawa. Sebenarnya ini bahasa halusnya dari kakak yang tegas dan aku takut dengannya. Kan, sangat tidak mungkin aku menulisnya dengan kakak paling ditakuti, yang ada nanti aku malah dimarahinya beneran. 

Ada lagi kejadian yang membuat jantungku sudah menunggu waktunya ingin lepas. Yaitu ketika pelatihan baris-berbaris.

“Siap, gerak!” semuanya dengan posisi tegap dan siap. Kakak senior memasang mata dengan tajam, seolah ingin mencari mangsa. Wkwk. Kita lagi latihan kaka.

“Istirahat di tempat, gerak!” Posisi kami dalam keadaan tangan dikepal ke belakang. Kaki membuka sejajar dengan bahu.

“Hormat, gerak!” semuanya memasang hormat di dahi. Dan di saat inilah para senior berhamburan sambil memerintah tegas kepada kami yang rata-rata cara hormatnya salah. Tak terkecuali aku. Kalau dalam urusan salah-salah, selalu saja ada aku. Heran deh. 

Aku memandang tanganku yang masih menempel di dahi. Tidak ada senior yang mendekatiku dan membenarkan kesalahanku. Hm, sepertinya ada aura yang tidak baik, nih. 

“Tangannya, Dek. Tangannya, Dek!” Sepasang mata sudah memandangku dari depan sambil menjatuhkan tanganku yang sedari tadi menempel di dahi. Wajah itu. Suara itu. Ah, aku ingin pingsan, boleh? 

“I-iya, kak,” balasku sambil menahan napas. 

“Hormat, gerak!” Perintahnya mengagetkanku.

Aku dengan sigap melakukan gerakan itu sambil menunggu responnya, si Mr. Galak.

“Ini tangannya jangan di kepala, dek. Nah, mundurkan lagi sampai ke samping kening.” Tangannya membenarkan posisi tanganku yang sedang posisi hormat. Aku bisa merasakan, kaku banget tangannya.

“Ke bawah lagi, dek!” Perintahnya.

Aku menurunkan sedikit ke samping kening.

“Naikin lagi, itu ke bawah banget.” 

Aku mengikut saja.

“Itu telapak tangannya jangan sampai terlihat!” Kak Aldi manatap tajam dengan bola mata hitamnya.

Aku menyembunyikan putih telapak tangaku sambil menggerutu dalam hati, “Emang gimana, sih? Ribet banget.”

Begitulah kira-kira dia membenarkan posisi hormatku sampai aku bisa. Yap, benar-benar sampai bisa. Setidaknya, setiap kali aku hormat dalam barisan ada amal jariyah kak Aldi yang mengalir. 

Aku tersenyum sambil menyeruput kopi yang sudah hampir dingin. Sama seperti cuaca di luar. Dingin. Bahkan, ditambah gerimis.

Aku kembali membalikan pandangan ke empat siswi SMA itu. Mereka tegah asik bercerita sambil menghabiskan minumannya. Ah, gelak tawanya mengingatkanku pada momen yang satu ini.

Yaitu ketika aku dan teman-teman melakukan rutinitas mingguan di sekolah. Jalan santai sejauh kurang lebih 3 kilometer. Lebih tepatnya kami satu sekolah beserta beberapa guru yang mendampingi. Ketika itu aku datang terlambat. Tidak terlalu lama, hanya saja ketika tiba di kelas teman-teman sudah berbaris mengatur posisi. 

Ada satu orang yang paling perhatian denganku ketika aku terlambat. Aku tau, kalau dia melihatku terlambat pasti akan ngomelin. Apa lagi hari ini...ah, aku melupakan satu hal. Aku tidak piket kelas. Wkwk, tapi tidak mengapa, karena ada temanku yang selalu datang lebih awal dan ia pasti sudah merapikan kelas. Wkwk, enak, ya, punya sahabat rajin.

Ketika aku berbaris di barisan paling belakang, aku sudah tidak menemukan dua orang sahabatku. Aku tau, mereka sudah berada di barisan paling depan. Hm, nasib banget sih. Aha...aku punya ide. Akhirnya aku mencari jalan tikus, nyempil sana sini biar bisa mengejar teman-temanku. Hehe, sejauh penyempilan ini jalannya aman, kok. 

Tapi... semua itu terhenti ketika di depanku ada kak Aldi dan teman-temannya. Naas banget sih nasibku kali ini. Bukan hanya hatiku yang tak berminat melanjutkan penyempilan, tapi ototku mendadak lemas. Enggak berani gerak terlalu cepat. Alhasil, aku harus menikmati perjalanan dan pemandangan yang tak mengenakkan. Ya, bagaimana mungkin jalan santai kali ini lebih baik kalau selama perjalanan aku harus menatap wajah seramnya. Udah nggak mood banget rasanya melihat apapun. Wkwk.

Setelah sampai ke kelas, aku langsung cerita ke dua sahabatku. Bukan perihatin, aku malah diketawain plus diledekkin. Syukurnya sahabat, ya. Kalau enggak, pengen cari tukang tabok mulut. Wkwk, bercanda.

Sebenarnya, aku tidak tahu kenapa aku bisa pobhia kalau melihat wajah kak Aldi. Hehe, ini masuk kategori pobhia, ya. Mungkin first impression itu memang benar-benar sangat berpengaruh untuk pandangan tentang orang itu selanjutnya. Aku bahkan mengecap kak Aldi sebagai orang yang tidak bisa tertawa. Kalau melihatnya bawaanya serem aja gitu atau enggak dunia seolah mendadak kaku aja gitu. Tapi, ketika aku melihat kak Aldi bergurau dengan temanku, aku seperti sedang menonton film action atau horor, asli bikin kaget. Enggak menyangka aja gitu. Mikirnya, “Ini benaran kak Aldi? Bisa juga, ya, dia tertawa.”

Untuk pengalaman dan kenangan selama menjadi adik tingkatnya rasanya tidak ada yang istimewa. Kebanyakan bikin wajahku pucat saja kalau berpapasan dengannya. Dan selama menjadi juniornya, aku selalu takut memandangnya. Tidak ada lagi yang bisa diingat tentangnya. Hanya saja, sejak beberapa bulan terakhir ini aku mendadak diteror dengannya di alam bawah sadar. Mimpi. Enggak menyangka banget. Apalagi mimpinya tentang dia.

Tiga bulan sebelum hari ini, aku bermimpi pergi ke sebuah pelabuhan di kota kami. Ketika itu aku dengan adikku. Tidak tahu bagaimana jalan ceritanya, di mimpi itu aku dan adikku mencari uang yang hilang. Uang itu untuk adikku membeli snack. Yang bikin aku kaget, di mimpi itu ada kak Aldi, temanku alias mantan kak Aldi, ayah dan ibu si temanku ini. 

Yang bikin aku panik di mimpi itu, kak Aldi mengajakku makan. Aku spontan memandang wajah si mantan kak Aldi itu. Dia langsung mengangguk. Seolah isyarat mengizinkan. Entahlah, mimpi apa ini. Yang jelas, kalau mimpinya ini bisa di pause mungkin aku ingin mengganti dengan mimpi yang lain saja. 

Aku meneguk kopi yang masih setia menemani waktu gabut ku. Ah, iya. Aku ingat sekali. Tidak lama setelah aku mimpi tentang dia. Satu bulan kemudian aku mimpi dia lagi. Sebenarnya aku sungkan mengingatnya, wkwk. Iya, bahkan sekadar mengingat saja nggak kepengen. By the way, kok aku masih saja menyebutkan ke kalian, ya. Haha.

Jadi, di mimpi itu aku sedang berada di perpustakaan. Kemudian, aku keluar. Nggak ada angin dan nggak ada hujan tiba-tiba saja ada yang merangkulku dari belakang. Kalian tahu siapa? Iya, tebakkan kalian benar. Kak Aldi. 

Geli banget rasanya mimpi tentang itu. Bagaimana mungkin wanita se-polos dan se-pemalu diriku mimpi yang begituan. Jika itu beneran terjadi, sebelum terjadi aja aku bakalan teriak keras-keras. Dan berlari sekencang-kencangnya. Ya, abisnya, kan, nggak lumrah kejadian atau mimpi yang harusnya romantis mendadak menegangkan. Yang dirasa bukan hal yang manis, malah hal yang ingin membuat jantungku berhenti memompa. 

“Uhuk..uhuk!” kopi yang kuminum dengan tanpa permisi masuk ke hidungku. Bener-bener, ya, ini pasti karena memikirkan kak Aldi. Mimpi itu. 

Beberapa pasang mata dari meja sampingku menatapku. Aku mengabaikannya sambil mengambil tisu. Geng remaja itu mulai bisik-berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan. Kan, nggak mungkin bisik-bisik bisa terdengar sejauh 1 meter. Aku memasang wajah biasa saja. Meski aku tau, sepertinya remaja itu dari tadi memperhatikanku. Dan mengira aku sedang kesepian tingkat dewa karena kerjaannya melamun dan melamun. Lalu, sesekali melempar pandangan ke mereka. 

Itu tidak menjadi masalah bagiku. Yang menjadi masalah itu, kenapa segala ingatanku tentang kak Aldi mulai memenuhi kepalaku. Ah...aku pusing dibuatnya. Harus teringat semua itu. Masalalu. Apalagi tentang pengalaman ini.

Pengalaman ketika aku dan sahabatku sedang menjagakan tas-tas adik kelas yang sedang latihan pramuka. Kami berada di lantai atas. Sembari memandang mereka yang lagi latihan di lapangan dari koridor kelas kami bercerita. Dan entah bagaimana awalnya kami bercerita tentang ketua OSIS dari tahun ke tahun. 

Dari situ, aku spontan bertanya ke Ay, “Menurutmu ketua OSIS yang paling ditakuti siapa, Ay?

Ay terlihat berpikir sejenak. “Hm, kayaknya nggak ada lah. Kalau kamu?” ujarnya sembari melempar pertanyaan yang sama.

“Kalau aku ada. Huhu...ini menurut aku aja, sih.” 

“Ih siapa? Kepo mimin, hehe.”

“Sttt...siapa lagi kalau bukan kak Aldi.” Aku mengecilkan suara supaya tidak ada yang mendengar. Ya, walaupun tidak seperti orang berbisik.

“Kok, bisa takut?” Pertanyaan itu Ay ucapkan sambil tertawa kecil.

“Ya, gimana. Kalau liat wajahnya itu bawaannya takut. Kakak itu nggak bisa bercanda kayaknya. Haha.” Aku menjawab sekenanya tanpa memperhatikan sekitar.

Tidak lama setelah itu, kami memutuskan turun ke bawah. Tidak tahu persis mau ngapain. Yang jelas saat tiba di tangga, langkah kakiku terhenti seketika. Antara ingin melanjutkan dan tidak. Tapi, naas dia sudah melihat ke arahku. Siapa lagi kalau bukan dia. Kak Aldi. Ah, bakalan mati aku. 

Mau tidak mau aku tetap melanjutkan dengan pandangan menunduk. Sementara kak Aldi yang terekam dari ekor mataku terlihat menatapku. Lama. Tajam. Seperti ingin menerkam. Aku dan Ay langsung kabur. Menghilang. 

Aku pikir masalah ini akan berhenti sampai di situ saja. Ternyata tidak. Ketika kak Aldi sedang memberikan nasehat kepada kami para juniornya. Kebetulan aku berada di barisan terdepan. Kak Aldi langsung menyinggung masalah perbedaan pemimpin yang ditakuti dengan dihormati. 

“Jleb.” Seolah itu sindiran halus untukku. Apalagi ketika dia menyampaikan itu matanya tidak berhenti melirik ke arahku. 

Kak Aldi melanjutkan, “Pemimpin yang ditakuti itu adalah pemimpin yang biasanya akan diomongin dari belakang.” Singkat, padat dan tegas. Matanya lagi-lagi melirik ke arahku. Persis, wajahku seperti udang rebus.Semenjak kejadian itu, aku benar-benar mengikrarkan ke diriku bahwa aku benar-benar takut dengan kak Aldi. Titik!

Seperti yang aku ikrarkan tersebut. Aku tetap menjadikannya tokoh peringkat satu yang ditakuti sampai aku lulus SMA. Bahkan mungkin saat ini. Namun, naas nasib malang selalu memihak kepada ku. Tidak lama ini aku bermimpi tentangnya lagi. Dan ini lebih aneh.

Kalian tahu, tidak tahu bagaimana jalan ceritanya, di mimpi itu kak Aldi dan orang tuanya datang ke rumahku. Tidak tahu datang karena diundang atau menghadiri acara. Tetapi, di mimpi itu tidak ada acara yang sedang dilangsungkan. Aku sih mulai ge-er. 

Kak Aldi menatapku sekilas dan aku membalasnya. Hanya itu. Setelahnya terdengar suara merdu yang memanggil. Suara adzan subuh. Ah, mimpinya belum selesai. 

Hari itu juga aku bercerita ke sahabatku. Responnya bukan perihatin atau kasihan karena aku seolah diteror selama tiga bulan berturut-turut dengan dimimpiin oleh kak Aldi. Ay malah tertawa. Terbahak-bahak. Ay bilang, “Itu isyarat kalau kak Aldi jodohmu. Dan itu dia sedang melamarmu. Haha.”

Syukurnya via chat, coba saja lagi ketemu. Pengen rasanya kusumpelin mulutnya   dengan kardus. Tapi, kalau dipikir-pikir tafsiran Ay yang nyeleneh itu ada benarnya juga. 

Ah, ini aku yang ke-ge-er-an atau kenapa, ya?


“Kak, halo, kak?” Suara itu membuyarkan lamunanku.

Aku mentap sekilas, lalu tersipu malu. 

“Kakak nggak apa-apa, kan? Kita perhatikan melamun dari tadi.” Remaja berjilbab itu bertanya sopan.

“Eh, nggak apa-apa, kok. Memangnya kelihatan seperti orang melamun, ya? Hehe,” balasku sambil berusaha tertawa. Walau hambar.

“Jujur aja, kak. atau karena lagi jomblo, ya, kak?” Remaja yang berkacamata menggodaku, lalu ikuti cekikikan teman-temannya dan aku.

“Hehe.” Tak mampu berbicara, aku merasa terhibur dengan mereka.

“By the way, kalian sekolah dimana?” tanyaku.

“Kami sekolah di SMA Tanjung Raden, kak.” Remaja berjilbab menimpal.

“Sekolah favorit itu, kak,” sahut yang lain.

Aku, “#&$%” diam seribu bahasa. Jangan, jangan guru yang mereka maksud adalah dia. Ah...


Finish.

 

By. Ili yanti 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH AWAL TERBENTUKNYA KOMUNITAS DAN ENTITAS POLITIK MUSLIM DI KAWASAN MELAYU Makalah ini disusun untuk memenuhi  tugas kelompok Dosen Pengampu : Desy Rosmalinda,S.Pd.,M.Pd. Disususun Oleh: 1.       Gilang Priagus (208180059) 2.       Ili Yanti (208180025) 3.       Risky Andinata (208180064) 4.       Winda Setiawati (208180038) PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN  JAMBI 2019 KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah , segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kelancaran kepada kami dalam menulis makalah ini. Sehingga kami dapat menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa pula ucapan terima kasih kepada  Ibu Desy Rosmalinda,S.Pd.,M.Pd.  yang telah memberikan kami bimbingan serta masukan-masukan saat di...

Serial Itok

assalamu'alaikum... teruntuk dua sahabatku ( As-Syifa dan Imae) yang selalu nanya " kapan ceritaku dibuatkan?", Nah sekarang dalam serial Itok saya masukkan pengalaman saya dan kalian pada masa putih-abu abu. Maka, silahkan membaca. Dan buat para pembaca yang sudah mampir di blog saya, saya ucapkan Marhabah. Semoga dapat menghibur kalian semua. Oh iya, apabila ceritanya kurang berkesan atau hidup. Saya mohon maaf, sebab membuat sebuah cerpen yang mengubah  karakter dari perempuan ke laki-laki atau dari laki-laki ke perempuan adalah hal yang tidak mudah. Maka dari itu, mohon dimaklumi. Selamat Membaca Guys.... Tiga Sekawan Pagi-pagi buta Itok sudah memasuki halaman sekolah. Sambil memegang sebuah buku Itok bernyanyi-nyanyi dengan nada suara yang dibuat-buat meniru Medona . Tapi, Cemprengnya bukan main. Dari jauh satu dua lampu di langit-langit Koridor masih menyala. “ Kayaknya gua paling pertama deh yang datang” Gumam Itok dalam hati sambil terus berjalan. ...