Mimpi apa malam tadi? Akhir Januari indah dengan segala kisah di dalamnya. Bukan karena pohon pepaya di belakang rumah berbuah lebat dan matang setiap hari. Bukan pula karena kisah indah dari teman-teman yang sudah lebih dahulu meninggalkanku karena status jomblonya ditanggalkan (read: menikah) dan bahkan bukan karena isi kepalaku dipenuhi dengan project tulisan yang akan dibukukan selanjutnya. Tidak! Tidak semua itu yang menjadikan Januari terasa indah. Jika bukan karena semua itu, lalu apa? Pelan-pelan, baca terus ke bawah, ya. Hehe. Keindahan akhir Januari ini tidak serta merta datang tanpa disengaja atau sebuah kejutan tak terduga. Bahkan sebab keindahannya lahir dan dibungkus oleh jutaan derai air mata, butir peluh dan lembaran uang yang semuanya menjadi saksi bisu tentang kerasnya dalam memperjuangkan sebuah keindahan yang sudah direncanakan akan mekar di akhir Januari. Di hari ini. Ya, tepatnya di hari ini. Demikianlah awal mula lahirnya keindahan di akhir Januari......
Mr. Galak Awal Januari masih tetap dengan gerimis tangisnya. Tidak ada yang berubah. Semuanya terlihat biasa saja. Semuanya berjalan seperti sedia kala. Tidak ada yang istimewa. Bahkan rasanya tidak perlu kehadirannya disambut sedemikian meriah dengan lecutan kembang api yang menghiasi langit tepat di pukul 00.00 wib, seperti yang terjadi tadi malam. Eh, tidak! Aku tidak mengikuti acara new years itu ya. Aku hanya menyaksikan siaran televisi yang tayang tadi pagi. Tidak sengaja terdengar, bukan berarti aku hobinya menonton acara gosip ya. Oh no! Rasanya aku tidak ada waktu untuk mendengarkan acara yang tidak ada manfaatnya. Eh, kalian jangan tersinggung, ya. Wkwk. Awal Januari benar-benar membuat mood-ku tidak baik. Meski sudah ditemani secangkir kopi di cafe SSM. Setiap seduhan, mantap!―begitu logonya, tetap saja ada sesuatu yang mengganggu. Entahlah. Mungkin aku memang benar-benar kesepian. “Huhf.” Aku menghembuskan nafas sambil menatap gerimis di luar sana. A...