Langsung ke konten utama

Romantika Skripsi

 Mimpi apa malam tadi?


Akhir Januari indah dengan segala kisah di dalamnya. Bukan karena pohon pepaya di belakang rumah berbuah lebat dan matang setiap hari. Bukan pula karena kisah indah dari teman-teman yang sudah lebih dahulu meninggalkanku karena status jomblonya ditanggalkan (read: menikah) dan bahkan bukan karena isi kepalaku dipenuhi dengan project tulisan yang akan dibukukan selanjutnya. Tidak! Tidak semua itu yang menjadikan Januari terasa indah. Jika bukan karena semua itu, lalu apa? Pelan-pelan, baca terus ke bawah, ya. Hehe.

Keindahan akhir Januari ini tidak serta merta datang tanpa disengaja atau sebuah kejutan tak terduga. Bahkan sebab keindahannya lahir dan dibungkus oleh jutaan derai air mata, butir peluh dan lembaran uang yang semuanya menjadi saksi bisu tentang kerasnya dalam memperjuangkan sebuah keindahan yang sudah direncanakan akan mekar di akhir Januari. Di hari ini. Ya, tepatnya di hari ini. 

Demikianlah awal mula lahirnya keindahan di akhir Januari...

“Kriing...kriing...kriing!!!” Bunyi alarm bersahut-sahutan bak ayam jantan berkokok di pagi hari. Tapi, bunyi itu tidak berada jauh seperti ayam di kandangnya akan tetapi hampir dekat di ubun-ubunku.

“Ah, pukul tiga dini hari.” Layar handphone kuusap. Ya, hanya diusap dan kembali terlelap dalam mimpi yang terjedaHaha. Habisnya alarmnya iseng membuyarkan mimpiku.

Ah, sepertinya alarm itu belum puas-puasnya mengganggu mimpiku dengan segala keindahannya, tepat lima menit kemudian alarm kembali berbunyi, bahkan dengan tempo yang lebih lama. “Okey alarm, aku bangun, nih!” Aku menyingkirkan selimut dan langsung melakukan aktivitas yang biasa dilakukan oleh semua umat muslim di waktu sepertiga malam terakhir.

Dalam sujud dan doaku, doa yang kencang kupinta adalah tentang hari ini. Hari yang akan menentukan nilai dari segala perjuangan, tantangan dan romantika di dunia perkuliahan. Tiga tahun lebih yang lalu aku melakukan aktivitas yang sama, dengan sujud yang sama, memohon kepada Rabb yang sama dan dengan doa yang berbeda. Bila waktu itu aku meminta untuk dilancarkan dalam memulai perkuliahan, maka hari ini aku meminta untuk dilancarkan dalam mengakhiri perkuliahan. Apapun yang akan terjadi, pasti akan terjadi. Demikian aku memotivasi diri. Maklum, tidak ada yang mau berinfak motivasi. Haha.

Setelah rutinitas pagi dengan segala jenis bentuknya selesai, aku memasukkan laptop, buku, skripsiini harga mati, selempang, instrumen penelitian, Al-Qur’an dan semua yang dibutuhkan nantinya ke dalam tas. Aku menganyunkan langkah kaki pertama ke luar pintu sambil membaca doa keluar rumah, lalu menaiki sepeda motor dengan cara yang sama seperti biasa, namun dengan hati yang berbeda.

“Kok tanganku gemeteran, ya?” ujarku bertanya padahal sudah tahu jawabannya. Dasar, pemborosan kata-kata. 

Ah, bahkan jantungku terpompa begitu kencang. Aku tidak sedang jatuh cinta, kawan, aku akan menghadapi ruang sidang yang menentukan akhir kehidupanku di Tadris Matematika. Nanti, belum sekarang. Saat ini aku sedang mengendarai motor. Wkwk.

Sebelum menuju lokasi yang sudah ditentukan bersama teman sekelasku yang juga akan sidang setelahku, terlebih dahulu menuju ke rumah temanku yang menjadi tim sukses sidang hari ini. Biasa, tugas tim sukses sidang adalah melihat secara langsung sidang, photographer dadakan, dan penulis paksaan. Hingga akhirnya aku tiba di rumahnya yang begitu tenang, nyaman, dan tidak ada hiruk-pikuk. Yang sedang hiruk-pikuk memang bukan rumahnya, tapi jantungku sedang hiruk-pikuk. 

“Jangan-jangan dia tidak ada.”

“Jangan-jangan dia masih tidur.” Demikian kemungkinan-kemungkinan yang langsung terpikirkan sambil mengetuk pintu dan jendelanya beberapa kali. Terakhir mengetuk pintu terdengar suara dari dalam yang serak-serak basah. 

“Ah, tidak salah lagi,” ujarku dalam hati sambil menepuk jidat, “dasar Inayati!”

“Hehe.” Ina membuka pintu dengan senyum tanpa dosa. 

“Sidangnya di sini aja kali, na.” Aku pasrah setelah melihat Ina baru bangun tidur. Padahal ini sudah pukul tujuh lewat.

“Tunggu lima menit! Lima menit pokoknya selesai.” Ina langsung berlari ke kamar mandi.

“Sidang di sini aja, Na,” aku pasrah.

“Enggak! Lima menit, pokonya lima menit.”

Aku tidak menjawab, yang menjawab hanya bunyi detak jantungku, isi kepalaku yang dipenuhi kekhawatiran dan segala kemungkinan yang akan merusak kelencaran sidang hari ini. Aku sibuk menata mentalku dan Ina sibuk menata dirinya di kamar mandi dan dilanjutkan di kamarnya. Ternyata memang benar teori the power of kepepet itu mujarab di saat kita terdesak. Dari segala romantika yang terjadi, tepat pukul 08.00 WIB kami sudah berada di lokasi sidang. 

Mungkin kalian yang membaca ini dari tadi bertanya, “Memangnya sidang apaan, sih?” Kalau mau tau jawabannya terus baca saja sampai ke bawah. Hehe.

Sebenarnya ini masih pagi dan cuaca masih dingin, akan tetapi aku merasa panas dan berkeringatan. Aku tidak tahu, badanku panas dingin, padahal sidang belum dimulai. Masih 1 jam lagi.

“Ly, mending kamu buka laptop dan coba-coba dulu. Supaya kalau ada kendala bisa tau,” ujar Ina bersamaan aku meletakkan tas ke atas meja. Ingat, baru meletakkan. Duduk santai aja belum sempat apalagi bernafas lega. Tapi, betul juga. 

“Oke, Ina.”

Aku langsung membuka laptop dan menguji coba persentasi sendiri di ruang zoom. Disela-sela aku sibuk dengan itu semua, Ina dengan wajah tampang tak memiliki beban berujar, “Ly, senyum. Ketawa, yok. Haha,” sambil tertawa kecil tapi cukup memancingku tertawa sekaligus mengeluh, “Ina, aku gemeteran, nih. Nggak bisa ketawa. Haha.” Dasar aneh, bilangnya nggak bisa tertawa, tapi yang terakhir tertawa juga.

Belum selesai dengan episode pertama pagi ini, suara khas dari luar terdengar melengking, “Ily...” sambil masuk.

“Lisa...” senyumku lepas dengan spontan, “akhirnya datang juga kamu.” Kalimat itu keluar bersamaan ingatanku tertuju pada permintaanku akan kehadirannya seminggu yang lalu.

“Iya, Ly. Kami, kan, sudah janji.” Senyumnya tulus.

Kembali kepada laptop, aku sudah menunggu ruang sidang dibuka 1 jam sebelum dimulai. Maklum, aku termasuk angkatan sidang online. Ada untungnya dan ada ruginya. Untungnya lebih fleksibel dan ruginya kalau jaringan sedang tidak bersahabat. Okey, tapi itu bukan permasalahku saat ini, meskipun kemungkinan yang terakhir akan terjadi itu sangat mungkin. Adapun yang menjadi permasalahannya 30 menit lagi ruang sidang dibuka.

“Ah, 30 menit lagi, Na, Sa.” Aku merengek dengan menggeleng-gelengkan kepala. Sebenarnya aku juga tidak mengerti kenapa harus geleng-geleng kepala. Mungkin bahasa alami yang menandakan bahwa aku belum siap. Sebenarnya iya, tapi aku menginginkan semua ini, bukan?

“Bismillah bisa, Ly.” Lisa menenangkan. 

“Ketawa, Ly. Bawa ketawa. Haha.” Ina berujar dengan polos, persis seperti jilbabnya, polos.

Baiklah, aku menyiapkan Al-Qur’an di atas meja, buku tulis, skripsi, pena dan memasang charger laptop sambil menunggu waktu setengah jam itu dan diselingi dengan bercanda. Namun, apakah menuju waktu yang ditunggu-tunggu berjalan dengan mulus, ah tidak! Tepat 15 menit sebelum acara dimulai, ketua sidang dan ibu pelaksana sidang meneleponku.

“Tidak biasanya, pasti ini ada sesuatu yang penting,” ujarku sambil mengangkat panggilan tersebut.

“Ly, kabarnya baik?” Percakapan itu dimulai pak ketua sidang.

“Siap, baik, pak.”

“Ly, kamu mau ikut tes bahasa Inggris untuk mendapatkan prediket Magna Cumlaude?” Ibu pelaksana sidang menyampaikan poin pentingnya.

“Tidak, bu! Untuk sidang ini saja jantungku dari tadi tidak beraturan, apalagi ditambah dengan ujian lainnya.” Teriakku dalam hati yang langsung berubah menjadi, “Ehm, tes bahasa Inggris, ya, bu?” ketika menjawab pertanyaan beliau.

“Iya, ujiannya setelah sidang, Ly,” pak ketua sidang menimpali, “Jadi, bagaimana, Ly,” lanjutnya.

“Pengen mengibarkan bendera putih, boleh, pak?” Pintaku dalam angan yang berubah, “Eh, kami gak bisa bahasa Inggris, pak. Eh, insya Allah, pak.” ketika yang keluar dari lisan. 

“Coba saja dulu.”

“Baik, pak,” jawabku yang sebenarnya setengah iya setengah tidak.

“Benar-benar diluar perkiraan,” pikirku dalam hati, “Na, Sa, mimpi apa aku tadi malam.” Teriakku setengah merengek setengah tidak menyangka.

“Mimpi aku, bukan? Haha.” Ina menimpali.

“Ina...” Dasar tidak peka kawannya lagi pusing tujuh keliling. Sebab, permasalahannya aku tidak ada belajar sama sekali.

“Ily pasti bisa, Ly.” Lisa menguatkan.

Tidak terasa watu berlalu, detik perdetik berubah, kondisi di ruang sidang juga berubah menjadi banyak peserta. Kalian harus tahu, ada satu hal yang tidak berubah, jantugku. Aku bahkan khawatir jika jantungku akan terlepas bila detaknya terlalu keras. Sejak pagi tadi hingga saat ini yang satu ini tidak berubah, bahkan semakin keras detaknya, iya.

Namun, acara tidak akan memperdulikan perasaan saat ini. Apapun yang dirasa tidak akan mengubah jadwal, tidak akan memajukan dan memundurkan dan mustahil para dosen yang terlibat langsung memberikan kelulusan berkat detak jantung yang begitu kerasdeg-degan. Ah, rasanya itu bukan saja tidak mungkin, tapi benar-benar tidak ada. Di mimpi kalian mungkin ada. Wkwk.

Kisah ini tidak akan meneruskan perasaanku saat ini, tapi diteruskan dengan suara pak ketua sidang memecah hening di ruang zoom.

“Baiklah, acara sidang munaqasah pagi ini kita buka.” Kira-kira demikianlah pak ketua sidang membuka sidang munaqasah. Ya, sidang munaqasah. Kalian bertanya-tanya, bukan? Hehe.

“Kepada saudara Ily dipersilakan untuk memaparkan skripsinya.” Kalimat terakhir ini cukup membuatku berpikir, “Ya Allah, apakah ini yang dinamakan simulasi sebelum sidang di kuburan nanti, yang diuji oleh malaikat munkar dan nangkir. Kalau tidak, ayo, Ly. Pasti bisa.” Aku menyemangati diri sendiri dalam hati yang diikuti pacuan detak jantung kian cepat.

“Bismillah...Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.” Aku membuka presentasi di hadapan para dosen-dosen yang luar biasa hebatnya. Rasanya aku belum pantas menyampaikan ini di depan dosen-dosen semuanya. Aku merasa kecil sekali, tapi aku tidak bisa mengangkat bendera putih, bukan, ketika sedang presentasi? Jika benar, baiklah aku melanjutkan menjelaskannya yang hingga akhirnya berujung pada, “ Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

“Jleb!” Satu beban hidupku sudah hilang, tinggal menuju pada beban yang selanjutnya.

“Langsung kepada ibu penguji kedua untuk bertanya.” Pak ketua sidang mengarahkan.

“Bu, aku tau ibu bukan malaikat mungkar maupun nangkir dan aku juga tau kalau ibu tidak akan bertanya pertanyaan di alam kubur, tapi kenapa rasa takutku persis seperti menghadapi dua hal tersebut, bu?” ujarku dalam hati sambil menggingit bibir. Haha, memangnya sudah pernah masuk kubur, kok bilangnya persis.

“Sudah siap, ly.” Beliau bertanya. 

“Belum, bu.” Iya, kalian tau itu hanya sebatas angan. Nyatanya menjawab, “Insya Allah, siap, bu.”

“Kabar ily, sehat?”

“ Mual, mules, pusing, takut, keringat dingin dan khawatir, bu.” Angan-angan lagi. Haha. Di depan layar menjawab, “Sehat, bu.” Dasar munafik. Haha.

Demikian dan seterusnya aku ditanya habis-habisnya oleh penguji yang super hebat. Satu hal unik yang kudapatkan adalah rasa pusing, mules, mual dan lain-lain tadi sudah traveling entah kemana. Saat menjawab dan berdialog dengan penguji, semua rasa tersebut hilang tanpa pernah dirasakan. Semuanya mengalir dan tidak ada hambatan. Semua pertanyaan bisa dijawab karena aku memang sudah hafal isi skripsiku tersebut. Apalagi di bab temuan dan hasil, itu bahkan sudah benar-benar di luar kepala. Bukan karena hafalanku yang kuat, namun, karena aku yang menulis sendiri sehingga bisa ingat tanpa perlu dihafal.

Pertanyaan-pertanyaan yang menakjubkan silih berganti datangnya, aku tidak takut lagi bahkan suka dengan sidang munaqasah atau sidang skripsi kata tentangga sebelah. Hehe. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sebenarnya menjadikanku lebih paham dengan apa yang kutulis selama ini. Begiku tidak ada pertanyaan yang sulit bila kita menguasainya dan tidak ada pertanyaan yang mudah bila kita tidak membaca jawabannya. Sidang skripsi yang kata orang adalah mimpi buruk di akhir semester, nyatanya tidak seburuk yang dibayangkan. Semuanya alami dan segala hal yang terjadi di dalamnya juga alami. 

Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti selama hampir dua jam. Ah, waktu yang sedikit jika dibawa hangout dan terasa lama di ruang sidang. Ini jujur ya kawan-kawan. Ingat, jujur. Hingga tibalah pada saat yang ditunggu.

“Alhamdulillah sidang telah selesai dan akan dilanjutkan dengan tes Bahasa Inggris dari Mister.” Demikian kira-kira pak ketua sidang menutup sidang munaqasah.

“Horee, beban lahir dan batin yang kedua sudah selesai. Lanjut ke beban terakhir.” Kali ini aku bisa berteriak dalam hati dengan percaya diri. Tidak takut seperti di awal, bahkan sedikit mulai berani. Hehe. Ternyata benar konsep bisa karena terbiasa. Aku pasti bisa melewati ini semua, karena sudah terbiasa disidang habis-habisan. 

Selanjutnya dilanjutkan dengan tes komunikasi antara aku dan mister E menggunakan bahasa Inggris. Tida banyak yang akan aku ceritakan tentang komunikasi ini berlangsung dan apa saja pertanyaan yang muncul, yang pasti ketika mister E bertanya, “Are you merried?” Aku menjawab dengan semangat, “No!” sambil tertawa dan diikuti yang lain. Ketika mister E bertanya, “Tell me about your parents.” Aku menjawab dengan percaya diri, “My father is garden and my mother is nothing.” Kalian jangan tertawa, please, jangan, biar aku saja yang tertawa dua kali. Pertama saat menjawab itu dan kedua saat menulis ini. Haha. 

Maksdunya, “ Your father is farmer and mother is housewife?” Mister E memperjelas karena pusing dengan bahasaku. Iya, pak mister E, begitu. Maaf mister jika berantakan, maklum, saat ini memang beban hidupku dan isi kepala sedang berantakan. Wkwk. 

Sidang ketiga ini lebih santai dan tidak lama pastinya. Setelah semuanya selesai, kami dikeluarkan kecuali para dosen. Beliau akan memutuskan nilai akan diberikan. Usai diskusi tersebut, aku dan teman-teman kembali masuk ke ruangan. Tidak memperpanjang jalan ceritanya, pada akhirnya aku mendapatkan nilai yang bagus dan bahasa Inggrisku yang demikian minim dinyatakan lulus. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Kalau bukan karena dorongan dari dosen, mungkin aku tidak akan menyandang prediket ini. 

Jangan kalian bertanya tentang perasaanku, kalian semua sudah tau persis jawabannya. Iya, bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya segala perjuangan terbayar lunas dengan keindahan di bulan Januari akhir ini. 


Selesai. 


Komentar

  1. Ah jantungku ikut berdetak, bahkan mungkin lebih kencang. Wkwkw
    Tapi aku suka gaya si Ina. Wkwkw

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH AWAL TERBENTUKNYA KOMUNITAS DAN ENTITAS POLITIK MUSLIM DI KAWASAN MELAYU Makalah ini disusun untuk memenuhi  tugas kelompok Dosen Pengampu : Desy Rosmalinda,S.Pd.,M.Pd. Disususun Oleh: 1.       Gilang Priagus (208180059) 2.       Ili Yanti (208180025) 3.       Risky Andinata (208180064) 4.       Winda Setiawati (208180038) PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN  JAMBI 2019 KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah , segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kelancaran kepada kami dalam menulis makalah ini. Sehingga kami dapat menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa pula ucapan terima kasih kepada  Ibu Desy Rosmalinda,S.Pd.,M.Pd.  yang telah memberikan kami bimbingan serta masukan-masukan saat di...

Mr. Galak

  Mr. Galak Awal Januari masih tetap dengan gerimis tangisnya. Tidak ada yang berubah. Semuanya terlihat biasa saja. Semuanya berjalan seperti sedia kala. Tidak ada yang istimewa. Bahkan rasanya tidak perlu kehadirannya disambut sedemikian meriah dengan lecutan kembang api yang menghiasi langit tepat di pukul 00.00 wib, seperti yang terjadi tadi malam. Eh, tidak! Aku tidak mengikuti acara new years itu ya. Aku hanya menyaksikan siaran televisi yang tayang tadi pagi. Tidak sengaja terdengar, bukan berarti aku hobinya menonton acara gosip ya. Oh no! Rasanya aku tidak ada waktu untuk mendengarkan acara yang tidak ada manfaatnya. Eh, kalian jangan tersinggung, ya. Wkwk.  Awal Januari benar-benar membuat mood-ku tidak baik. Meski sudah ditemani secangkir kopi di cafe SSM. Setiap seduhan, mantap!―begitu logonya, tetap saja ada sesuatu yang mengganggu. Entahlah. Mungkin aku memang benar-benar kesepian. “Huhf.”  Aku menghembuskan nafas sambil menatap gerimis di luar sana.  A...

Serial Itok

assalamu'alaikum... teruntuk dua sahabatku ( As-Syifa dan Imae) yang selalu nanya " kapan ceritaku dibuatkan?", Nah sekarang dalam serial Itok saya masukkan pengalaman saya dan kalian pada masa putih-abu abu. Maka, silahkan membaca. Dan buat para pembaca yang sudah mampir di blog saya, saya ucapkan Marhabah. Semoga dapat menghibur kalian semua. Oh iya, apabila ceritanya kurang berkesan atau hidup. Saya mohon maaf, sebab membuat sebuah cerpen yang mengubah  karakter dari perempuan ke laki-laki atau dari laki-laki ke perempuan adalah hal yang tidak mudah. Maka dari itu, mohon dimaklumi. Selamat Membaca Guys.... Tiga Sekawan Pagi-pagi buta Itok sudah memasuki halaman sekolah. Sambil memegang sebuah buku Itok bernyanyi-nyanyi dengan nada suara yang dibuat-buat meniru Medona . Tapi, Cemprengnya bukan main. Dari jauh satu dua lampu di langit-langit Koridor masih menyala. “ Kayaknya gua paling pertama deh yang datang” Gumam Itok dalam hati sambil terus berjalan. ...