Peran Ibu sebagai Madrasah Al-Ula dalam Pendidikan Anak1
1Ili Yanti
Mahasiswa Prodi Tadris Matematika UIN Sulthan Thaha
Saifuddin Jambi
Mengawali
artikel ini, saya akan menuliskan sebuah kutipan dari seorang ulama terkenal,
yaitu Hasan al-Banna. Beliau berkata, “Wanita merupakan tiang negara, jika baik
wanita di dalam suatu negara tersebut, maka baiklah ia seluruhnya. Akan tetapi
sebaliknya, jika tidak baik wanita yang ada di dalamnya, maka hancurlah ia
seluruhnya.”
Dari
kutipan tersebut, kita bukan hanya mengangguk-anggukan kepala, akan tetapi juga
merasakan sendiri betapa benar ucapan tersebut. Dalam sejarah perkembangan
dunia, baik berbicara tentang politik, agama, ekonomi dan sosial, kita sering disuapkan
dengan pencapaian-pencapaian luar biasa dari orang-orang hebat yang setiap
perubahan zaman selalu lahir. Kelahiran mereka tentu dari rahim seorang
perempuan. Pun kita selalu diingatkan
kembali tentang kehancuran sebuah peradaban yang akar dari semuanya adalah
hancurnya perempuan (Akhlak buruk, ilmu agama kurang dan mengikuti hawa nafsu).
Begitulah luar biasanya pengaruh perempuan dalam sebuah bangsa.
Dalam
tinta emas dan kacamata sejarah, kita akan menemui seorang ulama yang sangat
terkenal hingga masa kini dan sampai nanti. Seorang imam besar nan tersohor
yang satu ini penulis kira tidak ada yang tidak mengenalnya. Beliau adalah Abu
Abdullah Muhammad Idris Asy-Syafi’i atau kerap dipanggil dengan Imam Syafi’i.
Siapa saja pasti mengenal nama ini, bukan?
Ya,
beliau dikenal sebagai imam mahzab empat, yang dikenal memiliki khazanah
keilmuan yang begitu luas. Bahkan, mayoritas masyarakat Indonesia sendiri
memilih pendapat beliau sebagai mahzab utamanya. Kalian tahu? Saat berusia 7
tahun beliau sudah menjadi penghafal Al-Qur’an. Naik 8 tahun kemudian, beliau
diangkat menjadi mufti kota Mekkah dan telah diizinkan mengeluarkan fatwa. Tidak
berhenti sampai di sini, setahun kemudian kitab Al-Muwatha’ karya Imam Malik
yang berisiskan 1.720 hadits pilihan, juga berhasil dibabat habis oleh Imam
Syafi’i di luar kepala. Bukan hanya itu, ada yang lebih menakjubkan lagi ketika
beliau pernah mengkhatamkan hafalan al-Qur’annya sebanyak 16 kali dalam suatu
perjalanan dari Mekkah menuju Madinah.
Semua
yang membaca ini pasti tercengang, bukan? Juga pasti bertanya-tanya, apa yang
menjadi rahasia di balik kegemilangan beliau? Kalian tahu? Rahasianya hanya
satu, yakni peran ibunda beliau dalam mendidik sejak dalam kandungan hingga
beliau menutup mata.
Dalam
sebuah riwayat disebutkan, bahwa ketika Imam Syafi’i dalam kandungan ibunda
beliau sangat memperhatikan makanan dan minuman yang masuk ke mulutnya,
memperhatikan sumber ASI ketika menyusui dan yang paling mendidik adalah ketika
Imam Syafi’i menuntut ilmu, beliau berpesan untuk tidak pulang sebelum menjadi
seorang ‘alim dalam agama. “Nanti kelak, kita berjumpa di akhirat saja!”
Begitulah kira-kira pesan terakhir ibundanya.
Dari
sepenggal kisah tersebut, kita mengetahui bahwa keberhasilan seorang anak
sangat ditentukan oleh sekolah pertama anak tersebut. Sekolah tersebut tidak
lain adalah pendidikan yang dimulai dari keluarga. Ibu adalah pendidiknya. Dari
ibu seorang anak belajar mengenal segala hal baru dalam kehidupannya. Anak
mulai belajar berbicara, makan, minum, bersosialisai, mengenal Tuhan dan
agamanya, belajar sikap dan perilaku. Belum lagi ketika anak melemparkan
pertanyaan ‘ajaib’, seperti “Allah itu ada dimana, bu?” atau “Kenapa matahari
itu bersinar?” Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini tentu seorang ibu harus
berbekal ilmu yang banyak, agar pertanyaan anak dapat terjawab dengan
menggunakan bahasa yang dimengerti anak.
Madrasah Al-Ula adalah
sekolah pertama yang tugasnya lebih identik dipikul oleh ibu. Mendidik adalah
tugas mulia sepanjang masa. Tidak ada tugas mulia bagi seorang ibu terhadap
anaknya melainkan menjadi sekolah baginya. Seorang ibu haruslah paham, bahwa
mendidik anak adalah kewajiban terbesar yang harus dipikul di atas pundaknya.
Dialah pilar utama dalam proses pendidikan bagi anakanya. Prestasi dan
kesuksesan anak sangat berkaitan erat dengan peran ibu sebagai sekolah pertama
bagi anaknya. (Nurhayati, Syahrizal, 2015)
Salah
satu peran ibu sebagai madrasah al-ula adalah
mencetak para tokoh dan pejuang. Sebagaimana yang saya kisahkan di awal artikel
ini tentang kehebatan imam Syafi’i. Selain itu, tinta emas juga mengukir
kehebatan para pejuang dan tokoh, seperti: Zubair ibn Awwam Radiyallahu’anhu, Hasan dan Husein Radiyallahu’anhu, Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, Salahudin al-Ayyubi Rahimahullah, Hasan al-Banna, Hasan
al-Bashri, Muhammad al-Fatih, Buya Hamka, Mohammad Natsir, B.J.Habiebie dan
masih banyak lagi. Apabila ditelusuri sumber kesuksesan mereka, semuanya
berasal dari ibu yang tangguh dan ulet dalam memainkan perannya sebagai madrasah al-ula.
Untuk
mencetak generasi emas tersebut, seorang ibu atau perempuan harus memiliki
bekal berupa ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia. Mendidik anak itu ibaratkan
menanam di suatu lahan. Apabila kita persiapan lahan tersebut dengan bibit
terbaik, pengairan terbaik dan perawatan terbaik, maka hasil panennya pun akan
berkualitas baik. Sebaliknya, jika tanaman tersebut tidak diolah dan dipelihara
dengan baik, maka kualitasnya pun akan buruk. Analoginya,untuk membentuk
generasi yang berkualitas, maka kualitaskan diri terlebih dahulu. Agar peran
dalam mendidik anak tidak berbuah sia-sia.
Ibu
adalah pendidik terbaik bagi anaknya. Sebab, emosional di antara mereka telah
terjalin sejak masa kandungan. Ibu paling mengetahui tentang perasaan dan isi
hati anaknya. Ibu bisa memahami tingkah dan kemauan anaknya. Melihat dari
kedekatan emosional, itu sebabnya kenapa ibu bisa mendidik anak berdasarkan
karakternya. Ibu bisa menyesuaikan kurikulum pendidikannya terhadap anak.
Selain memiliki kedekatan emosional, ibu memiliki kasih sayang yang membuat
anak selalu nyaman bersamanya.
Menurut
M.Ngalim Purwanto (2006:82) peranan ibu dalam mendidik anak mencakup: 1) Sumber
dan pemberi kasih sayang, 2)Pengasuh dan pemelihara, 3) Tempat mencurahkan isi
hati, 4) Mengatur kehidupan dalam rumah tangga, 5) Pendidik dalam segi-segi
emosional. Tidak dipungkiri lagi kelima peranan tersebut adalah kewajiban ibu
kepada anaknya, yang mana ketika ibu mendidik ia bisa merasakan bagaimana
emosional anaknya tersebut. Sehingga adanya kepekaan emosional ini seorang ibu
bisa mendidik anak berdasarkan karakter anak tersebut.
Untuk
itu para ibu di seluruh dunia, jadilah pendidik yang akan melahirkan generasi
seperti para pejuang dan tokoh yang namanya tertulis dalam tinta sejarah.
Jadilah pendidik bagi anak, karena tugas ini adalah kemuliaan untuk semua
perempuan. Kalian harus tahu, pendidikan seorang ibu terhadap anaknya merupakan
pendidikan dasar yang tidak boleh diabaikan sama sekali. Kesempatan mendidik
ini hanya ada satu kesempatan. Jika ingin menghasilkan generasi yang baik, maka
hendaklah bijaksana dan pandai dalam mendidik. Seperti yang diungkapkan oleh
penyair arab, “Al-ummu madrasah al-ula,
idza a’dadtaha a’dadta sya’ban tayyiban al-a’raq.” Artinya ibu adalah
sekolah pertama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan
generasi yang terbaik.
Untuk
perempuan di seluruh dunia, baik yang belum menikah atau yang sudah menjadi
ibu, jadilah ibu yang baik. Ibu yang menjadi idola anak. Ibu yang ketika anak
kesulitan langsung dimintakan solusi oleh anaknya. Ibu yang dengan
kecerdasannya membuat anak tidak sungkan bertanya tentang apapun yang tidak
mereka ketahui. Ibu yang ketika anaknya memasuki masa baligh dapat menjelaskan
bagaimana menghadapi perubahan tersebut yang terjadi pada dirinya dan mengajarkan
ilmu tentang hal tersebut.
Sehingga,
dari pendidikan pertama ini nantinya anak-anak yang tumbuh dari pendidikan yang
baik dari ibunya akan menjadi generasi emas suatu bangsa. Ketika suatu bangsa
memiliki generasi-generasi emas, maka mustahil negara tersebut tidak maju.
Untuk melahirkan generasi emas tersebut, jadilah perempuan yang menjadi madrasah al ‘ula yang baik. Untuk bisa
mendidik dengan baik, maka persiapkan bekal dengan ilmu yang banyak, wahai
perempuan!
Artikel
ini untuk diri penulis sendiri, mama dan seluruh perempuan di dunia.
Sumber
:
Nurhayati,
Syahrizal, 2015. Urgensi dan Peran Ibu
sebagai Madrasah al-Ula dalam Pendidikan Anak, Jurnal Itqan. Vol. IV, No.2.
STAIN Malikussaleh Lhokseumawe
Komentar
Posting Komentar