Langsung ke konten utama



CINTA DAN ESENSINYA
( Ili Yanti )

“ Tidak pernah aku temukan besar dan tulusnya cinta seorang manusia kepada manusia lain selain dari cinta seorang umat kepada Rasulullah dan cinta Rasulullah kepada umat-Nya”

Mengawali kalimat di atas, saya langsung teringat tentang perjuangan Rasulullah saw dan para sahabat pada saat perang Uhud. Menurutku perang uhud tidaklah sama dengan perang-perang yang lainnya. Perang uhud adalah perang yang dapat membedakan mana orang-orang yang munafik dan mana orang yang benar-benar beriman. Mana orang-orang yang benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya dan mana pula orang-orang yang lebih mencintai dirinya daripada Allah dan Rasul-Nya. Teringat pula saya pada kisah percakapan antara umar bin khattab dan Rasulullah saw.
Pada suatu hari, Umar al-Khattab berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku mencintai engkau melebihi segala-galanya kecuali cintaku kepada diriku sendiri.”
“Tidak, ya Umar,” jawab Rasulullah “ Engkau mencintai aku melebihi pada dirimu sendiri”.
“ Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintaimu melebihi segala-galanya, walaupun diriku sendiri”, kata Umar bin Khattab.
“ Sekarang barulah betul,” kata Rasulullah.

Cinta seorang umat kepada Rasulullah saw adalah sebuah cinta yang tak cukup jika dituliskan dengan kata-kata dan tak bisa dilukiskan melalui peniruan. Cinta kepada Rasulullah adalah cinta yang lahir atas dasar keimanan. Bukan karena Tahta, materi, dan kedunian. Bagaimana pula bisa terjadi pada diri Talhah bin Ubaidillah dan Saad bin Abi waqas yang berani mempertaruhkan dirinya dengan terpotongnya tanganya demi menjaga Rasulullah dari orang Musyrikin yang ingin membunuh beliau pada perang uhud kalau bukan karena besarnya cinta yang berdasarkan kepada keimanan. Jika cinta para sahabat kepada Rasulullah saw adalah cinta yang berdasarkan pada Tahta, tentunya setelah wafatnya Rasulullah saw mereka tidak akan mengenang Rasulullah saw, sebab jabatan Rasulullah saw sebagai pemimpin mereka telah selesai. Namun nyatanya semua itu tidaklah berlaku pada mereka, masih ingatkah kisah Bilal Bin Rabbah, Muazzin Rasulullah yang mengumandangkan Azan di Madinah pada masa pemerintahan  Umar bin Khattab yang ternyata mampu menggemparkan kota Madinah dengan suara tangisan. Bisakah anda bayangkan manusia yang macam apa ini yang mampu membuat seluruh umat di suatu negeri menangis mengenang kehadirannya di tengah-tengah mereka. Pemandangan yang sangat mengharukan ini tidak akan pernah bisa kita temukan dalam sejarah peradaban mana pun, Mesopotamia, Romawi, Kisra , dan lainnya tidak pernah melahirkan seorang Raja yang mampu membuat seluruh rakyat menangis mengenangan. Malahan perkembangan paling akhir mereka membencinya. Kalau pun ada, tentunya cinta yang lahir dari diri mereka berbeda dengan umat Rasulullah, sebab manusia yang mereka cintai memiliki esensi yang berbeda dengan diri Rasulullah.
Selanjutnya jika cinta yang timbul dari para sahabat kepada Rasulullah saw adalah cinta yang berdasarkan harta,tentunya mereka tidak akan ingin hidup bersusah payah selama tiga tahun pada masa pemboikotan kaum quraisy kepada Bani Hasyim dan Bani Muthalib dan orang-orang islam yang  mengakibatkan kelaparan dan banyaknya yang meninggal, dan tentunya Abu Bakar As-Sidiq yang memiliki harta yang banyak tidak ingin mengambil jalan tersebut untuk bersama Rasulullah saw. Begitu pula dengan Utsman bin Affan seorang saudagar kaya di Makkah. Namun, cinta mereka bukan atas dasar harta melainkan atas dasar iman.
 Dan kalau bukan karena cinta yang berdasarkan keimanan, mereka tidak akan mau hijrah ke Yastrib. Meninggalkan keluarga dan harta mereka di Mekah dan menuju daerah yang tidak terlalu akrab bagi mereka. Dan mana mungkin mereka mau Menyusuri perjalanan padang pasir yang tandus dan gersang yang jaraknya 320 km dari Makkah. Namun lagi-lagi, cinta mereka atas dasar iman. Sehingga betapa pun sakitnya tantangan yang mereka hadapi, semuanya akan terasa ringan jika mereka mengingat Allah dan Rasul-Nya.
 selain itu juga, jika cinta yang timbul dari dada para sahabat kepada Rasulullah Saw adalah cinta yang didasarkan dengan harta. Tentunya mereka tidak akan mencinta Rasulullah saw, sebab Rasul adalah orang yang miskin. Beliau tidak memiliki perabotan apapun dinya, tidak mau menyimpan harta di rumahnya, dan tidak pernah makan-makanan yang lezat seperti Raja Persia dan Romawi. Tetapi mereka para sahabat mencintai Rasulullah bukan karena itu semua, mereka mencintai Rasul atas karena dasar iman yang kuat. Cinta yang melebihi daripada mereka sendiri, dan cinta yang membawa mereka pada jalan kebenaran, yakni dinnul Islam.
Masih ingatkah kita pada kisah-kisah sahabat yang mencintai Rasulullah saw melebihi dirinya sendiri.
Ingatkah masih dengan kisah Abu bakar As-sidiq dan Rasulullah saw saat berada di gua tsur. Kisah yang terjadi dalam perjalan hijrah Rasul ke Yastrib(Madinah). Saat mereka sampai di mulut gua, Abu Bakar berkata, “ Demi Allah, janganlah Anda masuk ke dalam gua ini sampai aku yang memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu (yang jelek), maka akulah yang mendapatkannya bukan Anda”. Abu Bakar pun masuk kemudian membersihkan gua tersebut. Setelah itu, Abu Bakar tutup lubang-lubang di gua dengan kainnya karena khawatir jika ada hewan yang membahayakan Rasulullah keluar dari lubang-lubang tersebut. Hingga tersisalah dua lubang, yang nanti bisa ia tutupi dengan kedua kakinya. Rasulullah pun masuk ke dalam gua dan tidur di pangkuan Abu Bakar. Ketika Rasulullah saw telah tertidur, tiba-tiba seekor hewan menggigit kaki Abu Bakar. Ia pun menahan diri agar tidak bergerak karena tidak ingin gerakannya menyebabkan Rasulullah terbangun dari istirahatnya. Namun, Abu Bakar adalah manusia biasa. Rasa sakit akibat sengatan hewan itu membuat air matanya terjatuh dan menetes di wajah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam. Rasulullah pun terbangun, kemudian bertanya,”Apa yang menimpamu wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab,”Aku disengat sesuatu”. Kemudian Rasulullah mengobatinya. Peristiwa ini pun diabadikan Allah swt di dalam Al-Qur’an.
Masih Anda ingat pulakah kisah cinta Zaid bin Haritsah kepada Rasulullah yang melebihi cintanya pada siapa pun. Termasuk pada Ayahnya sekali pun ia lebih mencintai Rasulullah.  Saya teringat pada percakapan di anatara mereka,
“ wahai cucu Abdul Muthalib, kalian adalah tetangga Allah ta’ala, kalian membantu orang yang memerlukan bantuan, memberi makan orang yang kelaparan dan menolong orang yang susah. Kami datang kepadamu untuk mengambil Zaid dari sisimu. Kami membawa harta untuk menebusnya, maka terimalah tebusan kami”, kata Haritsah Ayah Zaid.
“ Apakah kalian berdua-maksudnya paman zaid dan Ayahnya- berkenan menerima sesuatu yang lebih baik daripada tebusan?”, balas Rasulullah. Lalu Haritsah bertanya, “ Apa itu?”. Rasulullah menjawab, “ Kita memberikan kesempatan kepada Zaid untuk memilih, dengan siapa ia tinggal,” Haritsah menjawab, “ pilihan yang sangat tepat”. Lalu Rasulullah saw memanggil Zaid dan bertanya, “ siapakah dia Zaid”? Zaid menjawab, “ Dia Ayahku Haritsah bin Syurahil dan satunya adalah pamanku ka’ab. Lalu Rasulullah berkata, “ Aku memberimu pilihan jika kau mau tinggalah bersamanya,jika kau tidak mau, maka tinggalah bersamaku.” Zaid menjawab, “ Aku memilih tinggal bersamamu.” Haritsah pun kaget dan berkata, “ Celakalah kamu wahai Zaid! Apakah kamu lebih memilih sebagai budak, daripada Ayah dan ibumu”, Zaid membalas perkataan Ayahnya, “Aku melihat sesuatu pada orang ini dan aku tidak ingin berpisah selamanya.”
Setelah itu Rasulullah berdiri di depan orang Quraisy dan berkata, “ Wahai orang-orang quraiys ! saksikanlah bahwa orang ini adalah anakku, dia mewarisiku dan aku mewarisinya.”
Selanjutnya, kisah kecintaan Sahabat yang tak kalah besarnya dibanding kisah-kisah di atas yaitu kisah sahabat bernama Abdullah ibnu Zubair ra yang sangat mencintai Rasulullah. Sampai-sampai darah habis rasulullah berbekam di minumnya. Kalian panasaran dengan kisahnya?. Berikut ini saya kisahkan.
Ketika Rasulullah saw usai bekam bagian kepalanya lantas Rasulullah saw memerintahkan seorang sahabat sayyidina Abdullah ibn Zubair ra untuk membuang darah kotor Nabi saw seraya berkata “ buanglah darahku di tempat yang tidak diketahui oleh seorang pun”. Lalu Sayyidina Abdullah ibn Zubair ra berlalu mengikuti perintah Nabi saw tanpa menanyakan ini dan itu. Lantas di hati sahabt Nabi saw terbesit pikiran andakan darah tersebut diketemukan oleh orang lain walau pun dengan cara menggalinya pasti amatlah beruntung yang menemukannya dan dengan rasa panasaran dibukalah tempat di mana bekas darah Rasulullah saw diletakkan.
Subhanallah saat itu juga terciumlah aroma wangi yang melebihi minyak kasturi dan tanpa pikir panjang lagi maka dibukalah kotak tersebut dan dimasukkanlah darah tersebut ke mulut Sayyidina Abdullah Ibn Zubair ra sangking senangnya kemudian ia kembali menemui Rasulullah saw, sekembalinya beliau di hadapan Rasulullah saw pun bertanya padanya.
“Wahai Abdullah Ibn Zubair ra apakah sudah kau buang bekas darahku?”,
Maka saat itu juga Sayyidina Abdullah Ibn Zubair ra menjawab “ Sudah ya Rasulullah”.
“ Kau buang dimanakah darah tersebut dan apakah kau jamin tidak ada seorang pun yang tau”?, tanya Rasulullah saw.
Maka sayyidina Abdullah Ibn Zubair ra kembali menjelaskan, “ Saya jamin ya Rasulullah sebab darah tersebut hamba minum dan hamba telan ya Rasulullah karena hamba khawatir diketemukan oleh orang lain”.
Maka Rasulullah saw menjawab “ Demi Allah kelak nanti kau wafat api neraka takkan dapat menyentuhmu sedikit pun dan tanpa merasakan sakit badanmu sedikit pun”.

Dari kisah di atas dapat kita simpulkan dan pastinya bertanya-tanya apakah tidak haram darah tersebut?. Jawabannya Tidak, baginda yang mulia Rasulullah saw adalah makhluk yang paling suci di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Hingga darah kotornya pun halal untuk di minum dan ini pun adalah contoh dari keteladanan seorang sahabat yang begitu kecintaannya kepada Rasulullah saw. Banyak pula kisah lainnya seperti bekas wudhunya Rasulullah saw tidaklah jatuh hingga ke tanah sebab air tersebut ditunggui sahabat-sahabat beliau, subhanallah.[1]
Begitulah orang yang kalau sudah mengenal Rasulullah, kehidupan Rasulullah. Mereka akan lebih mencintainya melebihi dari apapun. Dan cinta ini bisa tumbuh karena adanya pengaruh dari diri Rasulullah saw. Perilaku yang bagaimana pula yang mampu membuat manusia mencintai manusia lain melebihi dirinya melainkan karena adanya nilai esensi yang berbeda dalam diri Rasul dibanding manusia lainnya.
Nilai esensi yang seperti apa pula yang dapat mendatangkan kecintaan pada orang disekitarnya. Sebelum saya menuliskannya, Saya teringat kembali pada firman Allah swt dalam surah Al-ahzab ayat 21, “ telah terdapat di dalam diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi kalian ...”. selain itu Aisyah ra saat ditanya bagaimana Akhlak Rasulullah saw, beliau menjawab “Akhlak rasulullah saw adalah Al-Qur’an”. Sampai di sini sudah jelaslah bahwa Rasulullah saw adalah insan yang termulia. Insan yang memiliki sifat-sifat yang mulia. Dan karena sifat mulia itulah yang menyebabkan beliau sangat dicintai oleh umat-Nya.
Membahas tentang sifat-sifat Rasulullah saw bukanlah sesuatu yang singkat dan mudah. Sebab jika saya ingin menjabarkan akhlak rasul di dalam kehidupan tentulah saya tidak sanggup. Seperti perkataan seorang ulama “ jika kita membaca kisah rasulullah saw, maka kita akan selalu mendapatkan kisah-kisah hebat yang belum pernah kita baca sebelumnya”. Ungkapan ini dapat dianalogikan bahwa Rasulullah saw adalah insan yang mulia dan kehidupannya dipenuhi dengan akhlak mulia. Betapa pun kita telah berusaha menyusun sejarah kehidupan Rasulullah saw dengan lengkap, maka pasti ada kisah-kisah hebat Rasulullah saw yang tak kita ketahui. Hal ini menandakan Rasulullah saw adalah manusia yang sempurna akhlaknya. Dan inilah yang menyebabkan orang-orang disekitarnya, orang-orang yang pernah melihatnya, dan orang-orang yang hanya membaca sejarahnya memiliki rasa kecintaan yang besar pada beliau.
Membahas tentang sifat Rasulullah saw saya teringat pada peristiwa hijrah Rasulullah saw ke thaif bersama Zaid bin Hafsah. Ketika orang-orang kafir Quraisy semakin menampakkan kebencian dan penyiksaannya kepada Rasulullah saw, maka Rasulullah memutuskan hijrah untuk mencari perlindungan. Maka berangkat beliau dengan Zaid bin Hafsah ke Thaif. Mereka menempuh perjalanan dengan berjalanan kaki, padahal jarak antara Mekah dan Thaif adalah 60 mil. Perjalanan beliau cukup berat dan melelahkan. Ketika sampai di Thaif, beliau mengunjungi tempat-tempat umum seperti pasar dan tempat pertemuan. Di sana beliau selalu membaca kalimat tauhid  Laa ila ha illaAllah Muhammadar Rasulullah.
Namun, ajaran baru Rasul saw ini banyak yang tidak setuju dan menentangnya. Mereka menolak mentah-mentah ajakan beliau. Bahkan beliau di ejek dan yang ekstrimnya sampai dilempari dengan batu. Lemparan batu itu tidak sembarangan karena mereka melempari batu dan mengincarnya di pembuluh darah beliau. Saat beliau berjalan keluar dari thaif, beliau dilempari batu yang sangat banyak dimana membuat beliau menunduk untuk menghalangi lemparan batu tersebut. Bagaimana pun juga Rasulullah saw adalah manusia, lemparan batu itu mengakibatkan darah segar mengucur dari tubuh beliau. Beliau tetap saja lari dan tumit beliau dilempari hingga sampai pembuluh darah tumit beliau. Kedua sandal beliau kini bersimbah darah, namun beliau tetap berlari.
Setelah itu, beliau berlindung di tembok milik ‘utbah dan syaibah yaitu putera Rabi’ah yang terletak 3 mil dari kota Thaif. Meskipun penduduk Thaif menghina dan melancarkan serangan pada beliau, namun beliau tidak sedikit pun melontarkan ucapan yang keji. Bahkan ucapan yang keluar dari bibir yang mulai itu adalah mendoakan agar penduduk Thaif agar mendapat hidayah. Doa beliau yang terkenal itu adalah :
Ya Allah, aku mengadukan kepada-Mu akan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya daya ucapanku pada pandangan manusia. Wahai Yang Maha Rahim dan sekalian rahimin. Engkaulah Tuhannya orang-orang yang merasa lemah, dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada musuh-musuh yang menghinaku ataukah kepada keluarga yang Engkau berikan padanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal saja aku tetap dalam keridhaan-Mu.
Dalam pada itu afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu Yang Maha Mulia yang menyinari seluruh langit dan menerangi semua yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat,dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu
Kepada Engkaulah aku mengadukan urusanku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan melalui Engkau.” ( HR. Thabrani)
Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah saw. Sehingga jibril as datang dan memberi salam kepada beliau, dan berkata, “Alah swt mengetahui apa yang terjadi dalam pembicaraanmu dengan kaummu, dan Allah mendengar jawaban mereka terhadapmu, dan Dia telah mengutus satu malaikat yang bertugas mengurusi gunung-gunung kepadamu untuk melaksanakan apa saja perintah yang diingankan olehmu.”
Setelah itu malaikat itu datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw, ia berkata, “ Apa yang engkau perintahkan akan saya lakukan. Jika engkau suka, saya sanggup membenturkan kedua gunung di samping kota ini bertubrukan sehingga akan mengakibatkan siapa saja yang tinggal di antara keduanya mati tertindih. Kalau tidak, apa saja hukuman yang engkau inginkan, Saya siap melaksanakannya.”
Mendengar pernyataan malaikat penunggu gunung itu, Rasulullah berkata, “Tidak usah, aku malah berharap mudah-mudahan Allah swt berkenan memunculkan dari kalangan mereka sendiri seseorang yang akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun[2].
Demikianlah ucapan mulia Rasulullah saw yang memiliki rasa kesabaran luar biasa dan akhlak yang mulia. Jadi pantaslah jika para sahabat mencintai Rasulullah saw melebihi dirinya sendiri, karena disebabkan tinggi luhurnya budi pekerti beliau. Dan sudah sepantasnya pulalah kita mencintai Rasulullah saw melebihi diri kita sendiri.
Ingatkah anda pada diri Rasulullah terdapat gelar Al-Amin. Gelar yang diberikan penduduk Quraisy sebelum diutus menjadi Nabi dan Rasul. Dan mereka mencintai Rasulullah-sebelum diangkat menjadi Rasul-. Rasulullah dikenal akan kejujurannya, bahkan setelah diangkat menjadi Rasul pun orang-orang Quraisy yang membenci beliau selalu menitipkan barang dan hartanya kepada beliau jika mereka berpergiaan. Ini menandakan bahwa bagaimana pun juga mereka orang-orang Quraisy tidak menemukan orang yang lebih jujur dibanding Rasulullah saw. Lalu kenapa mereka tidak menerima dakwah Rasulullah saw?, mudah saja. Sebab mereka belum mendapatkan hidayah. Sebagaimana Abu Thalib sang pembela Nabi saw yang meninggal tanpa membawa Islam, disebabkan tidak mendapat hidayah dari Allah swt.
Melalui tulisan saya yang singkat ini dan sekadarnya. Saya mengajak kepada para pembaca untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai orang yang paling kita cintai selain Allah swt melebihi diri kita sendiri. Melalui tulisan yang masih banyak kekurang ini, saya mengajak pembaca yang budiman untuk senantiasa membaca sejarah Rasulullah saw dan sejarah islam lainnya. Bacalah sejarah, sebab dengan membaca Anda telah menghidupkan sejarah.
Mengakhiri tulisan saya ini, saya mohon maaf jika terdapat kekeliruan dalam penulisan. Sebab saya hanya seorang yang fakir akan ilmu yang begitu luas. Saya harap pembaca dapat memaklumi.


Jambi, 16 Agustus 2019. Pukul 14.44 wib, Kamarku.
















[1] Daripada Amr bin Abdullah ibn Zubair mengisahkan ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahwa dia pernah datang kepada Nabi ketika baginda sedang dibekam
[2] Sejarah hidup Muhammad, M. Husein Haekal, diterjemahkan oleh Ali Audah; Shahih Bukhari; Shahih Muslim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH AWAL TERBENTUKNYA KOMUNITAS DAN ENTITAS POLITIK MUSLIM DI KAWASAN MELAYU Makalah ini disusun untuk memenuhi  tugas kelompok Dosen Pengampu : Desy Rosmalinda,S.Pd.,M.Pd. Disususun Oleh: 1.       Gilang Priagus (208180059) 2.       Ili Yanti (208180025) 3.       Risky Andinata (208180064) 4.       Winda Setiawati (208180038) PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN  JAMBI 2019 KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah , segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kelancaran kepada kami dalam menulis makalah ini. Sehingga kami dapat menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa pula ucapan terima kasih kepada  Ibu Desy Rosmalinda,S.Pd.,M.Pd.  yang telah memberikan kami bimbingan serta masukan-masukan saat di...

Mr. Galak

  Mr. Galak Awal Januari masih tetap dengan gerimis tangisnya. Tidak ada yang berubah. Semuanya terlihat biasa saja. Semuanya berjalan seperti sedia kala. Tidak ada yang istimewa. Bahkan rasanya tidak perlu kehadirannya disambut sedemikian meriah dengan lecutan kembang api yang menghiasi langit tepat di pukul 00.00 wib, seperti yang terjadi tadi malam. Eh, tidak! Aku tidak mengikuti acara new years itu ya. Aku hanya menyaksikan siaran televisi yang tayang tadi pagi. Tidak sengaja terdengar, bukan berarti aku hobinya menonton acara gosip ya. Oh no! Rasanya aku tidak ada waktu untuk mendengarkan acara yang tidak ada manfaatnya. Eh, kalian jangan tersinggung, ya. Wkwk.  Awal Januari benar-benar membuat mood-ku tidak baik. Meski sudah ditemani secangkir kopi di cafe SSM. Setiap seduhan, mantap!―begitu logonya, tetap saja ada sesuatu yang mengganggu. Entahlah. Mungkin aku memang benar-benar kesepian. “Huhf.”  Aku menghembuskan nafas sambil menatap gerimis di luar sana.  A...

Serial Itok

assalamu'alaikum... teruntuk dua sahabatku ( As-Syifa dan Imae) yang selalu nanya " kapan ceritaku dibuatkan?", Nah sekarang dalam serial Itok saya masukkan pengalaman saya dan kalian pada masa putih-abu abu. Maka, silahkan membaca. Dan buat para pembaca yang sudah mampir di blog saya, saya ucapkan Marhabah. Semoga dapat menghibur kalian semua. Oh iya, apabila ceritanya kurang berkesan atau hidup. Saya mohon maaf, sebab membuat sebuah cerpen yang mengubah  karakter dari perempuan ke laki-laki atau dari laki-laki ke perempuan adalah hal yang tidak mudah. Maka dari itu, mohon dimaklumi. Selamat Membaca Guys.... Tiga Sekawan Pagi-pagi buta Itok sudah memasuki halaman sekolah. Sambil memegang sebuah buku Itok bernyanyi-nyanyi dengan nada suara yang dibuat-buat meniru Medona . Tapi, Cemprengnya bukan main. Dari jauh satu dua lampu di langit-langit Koridor masih menyala. “ Kayaknya gua paling pertama deh yang datang” Gumam Itok dalam hati sambil terus berjalan. ...