CINTA DAN ESENSINYA
( Ili Yanti )
“
Tidak pernah aku temukan besar dan tulusnya cinta seorang manusia kepada
manusia lain selain dari cinta seorang umat kepada Rasulullah dan cinta
Rasulullah kepada umat-Nya”
Mengawali
kalimat di atas, saya langsung teringat tentang perjuangan Rasulullah saw dan
para sahabat pada saat perang Uhud. Menurutku perang uhud tidaklah sama dengan
perang-perang yang lainnya. Perang uhud adalah perang yang dapat membedakan
mana orang-orang yang munafik dan mana orang yang benar-benar beriman. Mana
orang-orang yang benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya dan mana pula
orang-orang yang lebih mencintai dirinya daripada Allah dan Rasul-Nya. Teringat
pula saya pada kisah percakapan antara umar bin khattab dan Rasulullah saw.
Pada
suatu hari, Umar al-Khattab berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku
mencintai engkau melebihi segala-galanya kecuali cintaku kepada diriku
sendiri.”
“Tidak,
ya Umar,” jawab Rasulullah “ Engkau mencintai aku melebihi pada dirimu
sendiri”.
“
Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintaimu melebihi segala-galanya, walaupun
diriku sendiri”, kata Umar bin Khattab.
“
Sekarang barulah betul,” kata Rasulullah.
Cinta
seorang umat kepada Rasulullah saw adalah sebuah cinta yang tak cukup jika dituliskan
dengan kata-kata dan tak bisa dilukiskan melalui peniruan. Cinta kepada
Rasulullah adalah cinta yang lahir atas dasar keimanan. Bukan karena Tahta,
materi, dan kedunian. Bagaimana pula bisa terjadi pada diri Talhah bin Ubaidillah
dan Saad bin Abi waqas yang berani mempertaruhkan dirinya dengan terpotongnya
tanganya demi menjaga Rasulullah dari orang Musyrikin yang ingin membunuh
beliau pada perang uhud kalau bukan karena besarnya cinta yang berdasarkan
kepada keimanan. Jika cinta para sahabat kepada Rasulullah saw adalah cinta
yang berdasarkan pada Tahta, tentunya setelah wafatnya Rasulullah saw mereka
tidak akan mengenang Rasulullah saw, sebab jabatan Rasulullah saw sebagai
pemimpin mereka telah selesai. Namun nyatanya semua itu tidaklah berlaku pada
mereka, masih ingatkah kisah Bilal Bin Rabbah, Muazzin Rasulullah yang
mengumandangkan Azan di Madinah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab yang ternyata mampu menggemparkan
kota Madinah dengan suara tangisan. Bisakah anda bayangkan manusia yang macam
apa ini yang mampu membuat seluruh umat di suatu negeri menangis mengenang
kehadirannya di tengah-tengah mereka. Pemandangan yang sangat mengharukan ini
tidak akan pernah bisa kita temukan dalam sejarah peradaban mana pun, Mesopotamia,
Romawi, Kisra , dan lainnya tidak pernah melahirkan seorang Raja yang mampu
membuat seluruh rakyat menangis mengenangan. Malahan perkembangan paling akhir
mereka membencinya. Kalau pun ada, tentunya cinta yang lahir dari diri mereka
berbeda dengan umat Rasulullah, sebab manusia yang mereka cintai memiliki
esensi yang berbeda dengan diri Rasulullah.
Selanjutnya
jika cinta yang timbul dari para sahabat kepada Rasulullah saw adalah cinta
yang berdasarkan harta,tentunya mereka tidak akan ingin hidup bersusah payah selama
tiga tahun pada masa pemboikotan kaum quraisy kepada Bani Hasyim dan Bani
Muthalib dan orang-orang islam yang mengakibatkan
kelaparan dan banyaknya yang meninggal, dan tentunya Abu Bakar As-Sidiq yang
memiliki harta yang banyak tidak ingin mengambil jalan tersebut untuk bersama
Rasulullah saw. Begitu pula dengan Utsman bin Affan seorang saudagar kaya di
Makkah. Namun, cinta mereka bukan atas dasar harta melainkan atas dasar iman.
Dan kalau bukan karena cinta yang berdasarkan
keimanan, mereka tidak akan mau hijrah ke Yastrib. Meninggalkan keluarga dan
harta mereka di Mekah dan menuju daerah yang tidak terlalu akrab bagi mereka. Dan
mana mungkin mereka mau Menyusuri perjalanan padang pasir yang tandus dan
gersang yang jaraknya 320 km dari Makkah. Namun lagi-lagi, cinta mereka atas
dasar iman. Sehingga betapa pun sakitnya tantangan yang mereka hadapi, semuanya
akan terasa ringan jika mereka mengingat Allah dan Rasul-Nya.
selain itu juga, jika cinta yang timbul dari
dada para sahabat kepada Rasulullah Saw adalah cinta yang didasarkan dengan
harta. Tentunya mereka tidak akan mencinta Rasulullah saw, sebab Rasul adalah
orang yang miskin. Beliau tidak memiliki perabotan apapun dinya, tidak mau
menyimpan harta di rumahnya, dan tidak pernah makan-makanan yang lezat seperti
Raja Persia dan Romawi. Tetapi mereka para sahabat mencintai Rasulullah bukan
karena itu semua, mereka mencintai Rasul atas karena dasar iman yang kuat.
Cinta yang melebihi daripada mereka sendiri, dan cinta yang membawa mereka pada
jalan kebenaran, yakni dinnul Islam.
Masih
ingatkah kita pada kisah-kisah sahabat yang mencintai Rasulullah saw melebihi
dirinya sendiri.
Ingatkah
masih dengan kisah Abu bakar As-sidiq dan Rasulullah saw saat berada di gua
tsur. Kisah yang terjadi dalam perjalan hijrah Rasul ke Yastrib(Madinah). Saat
mereka sampai di mulut gua, Abu Bakar berkata, “ Demi Allah, janganlah Anda
masuk ke dalam gua ini sampai aku yang memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada
sesuatu (yang jelek), maka akulah yang mendapatkannya bukan Anda”. Abu Bakar
pun masuk kemudian membersihkan gua tersebut. Setelah itu, Abu Bakar tutup
lubang-lubang di gua dengan kainnya karena khawatir jika ada hewan yang
membahayakan Rasulullah keluar dari lubang-lubang tersebut. Hingga tersisalah
dua lubang, yang nanti bisa ia tutupi dengan kedua kakinya. Rasulullah pun
masuk ke dalam gua dan tidur di pangkuan Abu Bakar. Ketika Rasulullah saw telah
tertidur, tiba-tiba seekor hewan menggigit kaki Abu Bakar. Ia pun menahan diri
agar tidak bergerak karena tidak ingin gerakannya menyebabkan Rasulullah
terbangun dari istirahatnya. Namun, Abu Bakar adalah manusia biasa. Rasa sakit
akibat sengatan hewan itu membuat air matanya terjatuh dan menetes di wajah
Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam. Rasulullah
pun terbangun, kemudian bertanya,”Apa yang menimpamu wahai Abu Bakar?” Abu
Bakar menjawab,”Aku disengat sesuatu”. Kemudian Rasulullah mengobatinya.
Peristiwa ini pun diabadikan Allah swt di dalam Al-Qur’an.
Masih
Anda ingat pulakah kisah cinta Zaid bin Haritsah kepada Rasulullah yang
melebihi cintanya pada siapa pun. Termasuk pada Ayahnya sekali pun ia lebih
mencintai Rasulullah. Saya teringat pada
percakapan di anatara mereka,
“
wahai cucu Abdul Muthalib, kalian adalah tetangga Allah ta’ala, kalian membantu
orang yang memerlukan bantuan, memberi makan orang yang kelaparan dan menolong
orang yang susah. Kami datang kepadamu untuk mengambil Zaid dari sisimu. Kami
membawa harta untuk menebusnya, maka terimalah tebusan kami”, kata Haritsah
Ayah Zaid.
“
Apakah kalian berdua-maksudnya paman zaid dan Ayahnya- berkenan menerima
sesuatu yang lebih baik daripada tebusan?”, balas Rasulullah. Lalu Haritsah
bertanya, “ Apa itu?”. Rasulullah menjawab, “ Kita memberikan kesempatan kepada
Zaid untuk memilih, dengan siapa ia tinggal,” Haritsah menjawab, “ pilihan yang
sangat tepat”. Lalu Rasulullah saw memanggil Zaid dan bertanya, “ siapakah dia
Zaid”? Zaid menjawab, “ Dia Ayahku Haritsah bin Syurahil dan satunya adalah pamanku
ka’ab. Lalu Rasulullah berkata, “ Aku memberimu pilihan jika kau mau tinggalah
bersamanya,jika kau tidak mau, maka tinggalah bersamaku.” Zaid menjawab, “ Aku
memilih tinggal bersamamu.” Haritsah pun kaget dan berkata, “ Celakalah kamu
wahai Zaid! Apakah kamu lebih memilih sebagai budak, daripada Ayah dan ibumu”,
Zaid membalas perkataan Ayahnya, “Aku melihat sesuatu pada orang ini dan aku
tidak ingin berpisah selamanya.”
Setelah
itu Rasulullah berdiri di depan orang Quraisy dan berkata, “ Wahai orang-orang
quraiys ! saksikanlah bahwa orang ini adalah anakku, dia mewarisiku dan aku
mewarisinya.”
Selanjutnya,
kisah kecintaan Sahabat yang tak kalah besarnya dibanding kisah-kisah di atas
yaitu kisah sahabat bernama Abdullah ibnu Zubair ra yang sangat mencintai
Rasulullah. Sampai-sampai darah habis rasulullah berbekam di minumnya. Kalian
panasaran dengan kisahnya?. Berikut ini saya kisahkan.
Ketika
Rasulullah saw usai bekam bagian kepalanya lantas Rasulullah saw memerintahkan
seorang sahabat sayyidina Abdullah ibn Zubair ra untuk membuang darah kotor
Nabi saw seraya berkata “ buanglah darahku di tempat yang tidak diketahui oleh
seorang pun”. Lalu Sayyidina Abdullah ibn Zubair ra berlalu mengikuti perintah
Nabi saw tanpa menanyakan ini dan itu. Lantas di hati sahabt Nabi saw terbesit
pikiran andakan darah tersebut diketemukan oleh orang lain walau pun dengan
cara menggalinya pasti amatlah beruntung yang menemukannya dan dengan rasa
panasaran dibukalah tempat di mana bekas darah Rasulullah saw diletakkan.
Subhanallah saat
itu juga terciumlah aroma wangi yang melebihi minyak kasturi dan tanpa pikir
panjang lagi maka dibukalah kotak tersebut dan dimasukkanlah darah tersebut ke
mulut Sayyidina Abdullah Ibn Zubair ra sangking senangnya kemudian ia kembali
menemui Rasulullah saw, sekembalinya beliau di hadapan Rasulullah saw pun
bertanya padanya.
“Wahai
Abdullah Ibn Zubair ra apakah sudah kau buang bekas darahku?”,
Maka
saat itu juga Sayyidina Abdullah Ibn Zubair ra menjawab “ Sudah ya Rasulullah”.
“
Kau buang dimanakah darah tersebut dan apakah kau jamin tidak ada seorang pun
yang tau”?, tanya Rasulullah saw.
Maka
sayyidina Abdullah Ibn Zubair ra kembali menjelaskan, “ Saya jamin ya
Rasulullah sebab darah tersebut hamba minum dan hamba telan ya Rasulullah
karena hamba khawatir diketemukan oleh orang lain”.
Maka
Rasulullah saw menjawab “ Demi Allah kelak nanti kau wafat api neraka takkan
dapat menyentuhmu sedikit pun dan tanpa merasakan sakit badanmu sedikit pun”.
Dari
kisah di atas dapat kita simpulkan dan pastinya bertanya-tanya apakah tidak
haram darah tersebut?. Jawabannya Tidak, baginda yang mulia Rasulullah saw
adalah makhluk yang paling suci di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Hingga
darah kotornya pun halal untuk di minum dan ini pun adalah contoh dari
keteladanan seorang sahabat yang begitu kecintaannya kepada Rasulullah saw.
Banyak pula kisah lainnya seperti bekas wudhunya Rasulullah saw tidaklah jatuh
hingga ke tanah sebab air tersebut ditunggui sahabat-sahabat beliau, subhanallah.[1]
Begitulah
orang yang kalau sudah mengenal Rasulullah, kehidupan Rasulullah. Mereka akan
lebih mencintainya melebihi dari apapun. Dan cinta ini bisa tumbuh karena
adanya pengaruh dari diri Rasulullah saw. Perilaku yang bagaimana pula yang
mampu membuat manusia mencintai manusia lain melebihi dirinya melainkan karena
adanya nilai esensi yang berbeda dalam diri Rasul dibanding manusia lainnya.
Nilai
esensi yang seperti apa pula yang dapat mendatangkan kecintaan pada orang
disekitarnya. Sebelum saya menuliskannya, Saya teringat kembali pada firman
Allah swt dalam surah Al-ahzab ayat 21, “ telah terdapat di dalam diri
Rasulullah suri tauladan yang baik bagi kalian ...”. selain itu Aisyah ra saat
ditanya bagaimana Akhlak Rasulullah saw, beliau menjawab “Akhlak rasulullah saw
adalah Al-Qur’an”. Sampai di sini sudah jelaslah bahwa Rasulullah saw adalah
insan yang termulia. Insan yang memiliki sifat-sifat yang mulia. Dan karena
sifat mulia itulah yang menyebabkan beliau sangat dicintai oleh umat-Nya.
Membahas
tentang sifat-sifat Rasulullah saw bukanlah sesuatu yang singkat dan mudah. Sebab
jika saya ingin menjabarkan akhlak rasul di dalam kehidupan tentulah saya tidak
sanggup. Seperti perkataan seorang ulama “ jika kita membaca kisah rasulullah
saw, maka kita akan selalu mendapatkan kisah-kisah hebat yang belum pernah kita
baca sebelumnya”. Ungkapan ini dapat dianalogikan bahwa Rasulullah saw adalah
insan yang mulia dan kehidupannya dipenuhi dengan akhlak mulia. Betapa pun kita
telah berusaha menyusun sejarah kehidupan Rasulullah saw dengan lengkap, maka
pasti ada kisah-kisah hebat Rasulullah saw yang tak kita ketahui. Hal ini
menandakan Rasulullah saw adalah manusia yang sempurna akhlaknya. Dan inilah
yang menyebabkan orang-orang disekitarnya, orang-orang yang pernah melihatnya,
dan orang-orang yang hanya membaca sejarahnya memiliki rasa kecintaan yang
besar pada beliau.
Membahas
tentang sifat Rasulullah saw saya teringat pada peristiwa hijrah Rasulullah saw
ke thaif bersama Zaid bin Hafsah. Ketika orang-orang kafir Quraisy semakin
menampakkan kebencian dan penyiksaannya kepada Rasulullah saw, maka Rasulullah
memutuskan hijrah untuk mencari perlindungan. Maka berangkat beliau dengan Zaid
bin Hafsah ke Thaif. Mereka menempuh perjalanan dengan berjalanan kaki, padahal
jarak antara Mekah dan Thaif adalah 60 mil. Perjalanan beliau cukup berat dan
melelahkan. Ketika sampai di Thaif, beliau mengunjungi tempat-tempat umum
seperti pasar dan tempat pertemuan. Di sana beliau selalu membaca kalimat
tauhid Laa ila ha illaAllah Muhammadar Rasulullah.
Namun,
ajaran baru Rasul saw ini banyak yang tidak setuju dan menentangnya. Mereka menolak
mentah-mentah ajakan beliau. Bahkan beliau di ejek dan yang ekstrimnya sampai
dilempari dengan batu. Lemparan batu itu tidak sembarangan karena mereka
melempari batu dan mengincarnya di pembuluh darah beliau. Saat beliau berjalan
keluar dari thaif, beliau dilempari batu yang sangat banyak dimana membuat
beliau menunduk untuk menghalangi lemparan batu tersebut. Bagaimana pun juga
Rasulullah saw adalah manusia, lemparan batu itu mengakibatkan darah segar
mengucur dari tubuh beliau. Beliau tetap saja lari dan tumit beliau dilempari
hingga sampai pembuluh darah tumit beliau. Kedua sandal beliau kini bersimbah
darah, namun beliau tetap berlari.
Setelah
itu, beliau berlindung di tembok milik ‘utbah dan syaibah yaitu putera Rabi’ah
yang terletak 3 mil dari kota Thaif. Meskipun penduduk Thaif menghina dan
melancarkan serangan pada beliau, namun beliau tidak sedikit pun melontarkan
ucapan yang keji. Bahkan ucapan yang keluar dari bibir yang mulai itu adalah
mendoakan agar penduduk Thaif agar mendapat hidayah. Doa beliau yang terkenal
itu adalah :
“ Ya Allah, aku mengadukan kepada-Mu akan
lemahnya kekuatanku dan sedikitnya daya ucapanku pada pandangan manusia. Wahai Yang
Maha Rahim dan sekalian rahimin. Engkaulah Tuhannya orang-orang yang merasa
lemah, dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada musuh-musuh
yang menghinaku ataukah kepada keluarga yang Engkau berikan padanya urusanku,
tidak ada keberatan bagiku asal saja aku tetap dalam keridhaan-Mu.
Dalam pada itu afiat-Mu lebih luas
bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu Yang Maha Mulia yang menyinari
seluruh langit dan menerangi semua yang gelap dan atasnyalah teratur segala
urusan dunia dan akhirat,dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau
dari Engkau turun atasku adzab-Mu
Kepada Engkaulah aku mengadukan
urusanku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan melalui
Engkau.” ( HR. Thabrani)
Demikian
sedihnya doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah saw. Sehingga jibril as datang dan
memberi salam kepada beliau, dan berkata, “Alah swt mengetahui apa yang terjadi
dalam pembicaraanmu dengan kaummu, dan Allah mendengar jawaban mereka
terhadapmu, dan Dia telah mengutus satu malaikat yang bertugas mengurusi
gunung-gunung kepadamu untuk melaksanakan apa saja perintah yang diingankan
olehmu.”
Setelah
itu malaikat itu datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw, ia berkata, “
Apa yang engkau perintahkan akan saya lakukan. Jika engkau suka, saya sanggup
membenturkan kedua gunung di samping kota ini bertubrukan sehingga akan
mengakibatkan siapa saja yang tinggal di antara keduanya mati tertindih. Kalau tidak,
apa saja hukuman yang engkau inginkan, Saya siap melaksanakannya.”
Mendengar
pernyataan malaikat penunggu gunung itu, Rasulullah berkata, “Tidak usah, aku
malah berharap mudah-mudahan Allah swt berkenan memunculkan dari kalangan
mereka sendiri seseorang yang akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun[2].
Demikianlah
ucapan mulia Rasulullah saw yang memiliki rasa kesabaran luar biasa dan akhlak
yang mulia. Jadi pantaslah jika para sahabat mencintai Rasulullah saw melebihi
dirinya sendiri, karena disebabkan tinggi luhurnya budi pekerti beliau. Dan
sudah sepantasnya pulalah kita mencintai Rasulullah saw melebihi diri kita
sendiri.
Ingatkah
anda pada diri Rasulullah terdapat gelar Al-Amin. Gelar yang diberikan penduduk
Quraisy sebelum diutus menjadi Nabi dan Rasul. Dan mereka mencintai Rasulullah-sebelum
diangkat menjadi Rasul-. Rasulullah dikenal akan kejujurannya, bahkan setelah
diangkat menjadi Rasul pun orang-orang Quraisy yang membenci beliau selalu
menitipkan barang dan hartanya kepada beliau jika mereka berpergiaan. Ini menandakan
bahwa bagaimana pun juga mereka orang-orang Quraisy tidak menemukan orang yang
lebih jujur dibanding Rasulullah saw. Lalu kenapa mereka tidak menerima dakwah
Rasulullah saw?, mudah saja. Sebab mereka belum mendapatkan hidayah. Sebagaimana
Abu Thalib sang pembela Nabi saw yang meninggal tanpa membawa Islam, disebabkan
tidak mendapat hidayah dari Allah swt.
Melalui
tulisan saya yang singkat ini dan sekadarnya. Saya mengajak kepada para pembaca
untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai orang yang paling kita cintai selain
Allah swt melebihi diri kita sendiri. Melalui tulisan yang masih banyak
kekurang ini, saya mengajak pembaca yang budiman untuk senantiasa membaca
sejarah Rasulullah saw dan sejarah islam lainnya. Bacalah sejarah, sebab dengan
membaca Anda telah menghidupkan sejarah.
Mengakhiri
tulisan saya ini, saya mohon maaf jika terdapat kekeliruan dalam penulisan. Sebab
saya hanya seorang yang fakir akan ilmu yang begitu luas. Saya harap pembaca
dapat memaklumi.
Jambi, 16 Agustus 2019.
Pukul 14.44 wib, Kamarku.
[1] Daripada
Amr bin Abdullah ibn Zubair mengisahkan ayahnya pernah menceritakan kepadanya
bahwa dia pernah datang kepada Nabi ketika baginda sedang dibekam
[2] Sejarah hidup
Muhammad, M. Husein Haekal, diterjemahkan oleh Ali Audah; Shahih Bukhari; Shahih
Muslim

Komentar
Posting Komentar