N
Assalamualaikum Akhi wa Ukhty...
Kembali bersama saya Ily
Mari simak karya berikut
....
Al-Qur’an
Sahabatku
“Hai manusia, sesungguhnya telah
datang kepadamu pelajaran (mauizhah) dari Tuhanmu dan terapi bagi
penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta Rahmat bagi
orang-orang yang beriman.” ( Qs. Yunus:57, periksa pula
An-Nahl:89, al-Israa’:9 dan 82)
Kita
sepakat bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia dan paling terjaga
keotentikannya dibanding dengan kitab lainnya. Ungkapan ini bukan hanya dari
saya melainkan sudah tertuang dalam kalam Allah. Keindahan dari segi tulisan
dan bacaannya tidak ada satupun jenis sastra yang dapat menandinginya, bahkan
nilai plusnya jika membacanya akan mendapat pahala dan dapat menjadi pelindung
bagi yang istiqomah membaca, memperlajari, dan mengamalkannya.
Akan
tetapi, keistimewaan tersebut semakin hari semakin terkalahkan oleh perkembangan
teknologi yang semakin pesat yang dapat membuat konsumennya tergila-gila.
Dampaknya umat Islam semakin hari semakin merosot kecintaannya pada Al-Qur’an. Jika dulu kita
menjadikan Al-Qur’an menjadikan sebagai kitab suci yang wajib untuk dibaca
setiap harinya, maka hari ini saya mendapati di tempat-tempat tertentu Al-Qur’an
hanya sebagai kitab suci saja yang kadang tidak pernah tersentuh oleh tangan
sang pemiliknya. Na’uzubillah.
Keberadaan
Al-Qur’an yang telah disepakati oleh ahli sastra zaman dahulu sebagai kitab
yang bukan buatan manusia dan tidak mungkin seseorang dapat menggungulinya kini
telah digantikan dengan benda mungil yang ajaib bin hebat. Naifnya kita tidak
gusar dengan kemerosotan dalam hal ini bahkan kita sangat menikmati dengan apa
yang kita lakukan saat ini. Lantas
bolehkah kita mengatakan di dunia tidak ada lagi yang gemar membaca Al-Qur’an
karena sudah dijejali oleh berbagai tayangan-tayangan yang tidak baik? Nanti
dulu. Sebelum kita memvonis segala sesuatu yang tidak kita ketahui
kebenarannya, hendaknya kita menyakini satu hal. Bahwa seburuk apapun zaman
yang kita hadapi percayalah bahwa manusia-manusia mulia yang memiliki hati yang
indah masih menampakkan batang hidungnya di muka bumi. Sejelek apapun lingkungan kita, percayalah pastilah masih ada
yang memiliki hati yang bersih. Masih ada yang bangun di sepertiga malam, masih
ada yang bibirnya selalu basah dengan ayat-ayat-Nya dan masih ada yang
mencintai-Nya melebihi dunia dan seisinya. Merekalah auliya yang Allah swt., titipkan sedikit perbendaharaan ilmu
kepadanya. Kadang Auliya-auliya ini
ada yang ciri-crinya kita ketahui dan ada juga yang identitasnya sengaja
disemunyikan Allah swt., seperti yang telah lalu Uwais al-Qarni yang di dunia
hanya dipandang sebagai pemuda miskin ternyata adalah seorang waliyullah yang terkenal di penduduk langit,
bukan penduduk bumi.
Melihat
kondisi umat di zaman ini yang semakin parah, saya ingin menceritakan sebuah
pengalaman yang bagi saya sangat berarti. Pengalaman itu bermula dari keputusan
orang tua saya yang menyuruh tinggal di rumah saudara nenek saya. Singkat
cerita, akhirnya saya tinggal di rumah tersebut. Awalnya saya sedikit canggung.
Namun, setelah lama-kelamaan saya mulai terbiasa. Akan tetapi, ceritanya tidak
hanya itu saja. Ketika saya memutuskan tinggal bersama mereka ternya saya
menemukan satu hal yang istimewa di rumah ini, yakni anggota rumahnya selalu
menyibukkan diri dengan Al-Qur’an. Saya
terkesima dengan semuanya. Setelah setahun di rumah tersebut. Saya memutuskan
hijrah ke suatu daerah. Di sana saya tinggal seorang diri, tidak ada teman di
tempat tinggal baru saja. Dari sana lah saya belajar untuk hidup bersama
Al-Qur’an, berbicara dengan Al-Qur’an, beristirahat bersama Al-Qur’an dan makan
dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an
benar-benar sudah menjadi bagian hidupku. Dari itu semualah saya menyadari dan
merasakan sesuatu hal yang sangat luar biasa yang tidak pernah saya rasakan
sebelumnya. Saya merasakan kehidupan berjalan dengan sangat menyenangkan, tidak
ada stress, bukan berarti tidak ada masalah. Ada banyak masalah yang saya hadapi
namun karena Pertolongan Allah yang Dia titipkan ke Al-Qur’an saya selalu
dipermudahkan dalam menghadapi segala hal. Saya merasakan adanya keberkahan
hidup saat kehidupan diisi dengan Al-Qur’an. Itu
hanyalah kisah kecil yang masih jauh dibanding dengan auliya’-auliya’ Allah yang setiap harinya mampu mengkhatamkan
Al-Qur’an. Akan tetapi, dari pengalaman kecil yang berharga inilah saya semakin
yakin dan mantap untuk selalu menjaga waktu-waktu bercengkeraman bersama
Al-Qur’an, sesibuk apapun itu saya selalu istiqomah bersamanya. Ada banyak ungkapan yang sering saya
dengar, entah itu dari ucapan secara langsung maupun tulisan-tulisan yang
beredar di media sosial. Kira-kira ungkapan tersebut adalah ‘Saya tidak punya
waktu untuk membacanya’, ‘Saya sibuk sekali’, dan ungkapan lainnya yang membuat
saya dan Anda menggelengkan kepala Namun terasa bukan barang aneh lagi. Kenapa?
Karena kita sudah sepakat bahwa kita hidup di zaman materialistik, segala hal
selalu diukur dengan uang dan uang, bukan dengan pahala. Sebenarnya, jika kita
ingin merenungi lebih dalam kenapa Al-Qur’an itu begitu penting dalam hidup
kita tentu kita akan mencintainya, sangat mencintainya.
Anda
mengatakan bahwa Anda sibuk, tidak punya waktu dan lain sebagainya. Maka Saya
mengatakan Anda adalah orang yang tidak bisa memajemen waktu dengan baik. Alm.
Bacharudin Jusuf Habiebie, Presiden Indonesia ketiga ini yang dikenal sebagai
orang paling jenius di Indonesia dan dikenal dengan orang sangat sibuk ini
ternyata selalu mengkhususkan waktunya untuk membaca Al-Qur’an sebanyak dua Juz
setiap harinya. Maa Syaa Allah.
Sudahkah
Anda seperti beliau, jika sudah berarti Anda sudah merasakan bagaimana
manfaatnya bersahabat dengan Al-Qur’an. Selain beliau ada banyak
manusia-manusia luar biasa yang mengkhusukan waktunya bersama Al-Qur’an dan
faktanya kehidupan mereka tidak ada yang sengsara. Seperti Imam Syafi’i yang
setiap harinya mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali dan lain sebagainya yang tidak
bisa saya sebutkan satu persatu.
Kembali ke cerita di
atas, ada satu kalimat yang harus kita garis bawahi dengan jiwa yang bersih
yaitu selalu mengkhususkan. Al-Qur’an
tidak akan pernah bisa kita dalami dan kita cintai bahkan dijadikan sahabat
jika membacanya saja kita menunggu ada sisa waktu dari aktivitas kita.
Al-Qur’an bukan beban, Al-Qur’an adalah solusi. Pandai-pandailah kita
menjadikan Al-Qur’an sebagai solusi dalam kehidupan kita dengan cara
mengkhususkan waktu bersamanya setiap harinya.
Dan
hendaknya kita mengubah paradigma bahwa membaca Al-Qur’an hanya menunggu ada
waktu longgar atau ada waktu sisa menjadi mengkhususkan waktu membaca
Al-Qur’an. Supaya dengan demikian kita bisa menguatkan prinsip ketauhidan dan
kebesaran Islam dari para musuh-musuh kita yang setiap saat selalu memutar
keplaa untuk menjatuhkan kita bahkan
mamusnahkan kita dari permukaan bumi.
Sebagai
umat muslim hendaknya kita menjaga dan mencintai Al-Qur’an. Jadikan ia sebagai
sahabat kita di dunia dan akhirat. Karena bersahabat dengan Al-Qur’an tidak ada
yang namanya permusuhan, pengkhianatan, dan tidak kekal seperti persahatan
manusia pada umumnya.
Dalam
sebuah hadits disebutkan bahwa, “Sesungguhnya
Allah mengangkat dengan kitab suci ini satu kaum dan menghinakan dengan kitab
suci ini pula satu kaum lainnya.” (HR.Muslim dari Umar Ibn Khaththab r.a.)
Sebagai mukjizat
terbesar, keberadaan Al-Qur’an merupakan kendala,rintangan, ancaman, bahkan
malapetaka bagi para penentangnya, orang-orang kafir. Al-Qur’an memebuat mereka
kecewa, putus asa, patah semangat, dan mati kutu karena keagungan yang
dipertontonkan didepannya.
Gladstone,
pemimpin partai liberal Inggris yang juga orator kenamaan abad ke-19
mengingatkan teman-temanya di suatu majelis. Ia berkata, “Selama kitab ini
(seraya mengangkat Al-Qur’an dengan tangannya ke atas) masih ada di muka bumi,
maka jangan harap dapat menundukkan kaum muslimin.”
Amat
beruntunglah kita jikalau telah menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat kita,
karena seperti ungkapan di atas ketika kita masih membaca, memepelajari, dan
mengamalkan Al-Qur’an maka kita sudah menjadi bagian orang-orang yang
mempertahankan umat Islam di muka bumi dan menekuk lutut orang-orang kafir.
Seorang
Yahudi picik, Lord Carzon, menulis, “Tidak akan tercapai tujuan kita selama
umat Islam masih mempelajari dan bisa berbahasa Arab Fushah, bahasa Al-Qur’an.”
Itulah
kenapa di sekolah-sekolah kita dulu dimuatkan mata pelajaran bahasa Arab dan
Al-Qur’an Hadits supaya kita bisa mempelajari bahasa Al-Qur’an dan memahami isi
kandungannya. Kalau hal ini sudah kita capai, maka kita telah menundukkan para
orientalis yang ingin mengacaubalaukan kita dengan dogma-dogma yang tidak
bertanggung jawab.
Maka
dari itu salah jika kita masih malas-malasan saat belajar bahasa Arab dan
Al-Qur’an Hadits dan rugi jika kita tidak pernah mempelajarinya. Sebab kunci
kehebatan Islam ada pada dua mata pelajaran tersebut. Anda tidak perlu meminta
buktinya lagi, ungkapan dari orientalis di atas sudah sangat jelas menyiratkan
bahwa mempelajari Al-Qur’an adalah salah satu aktivitas yang dapat menghalagi
tercapainya tujuannya.
Maka
dari itu beruntunglah kita yang sudah duduk di majlis yang mendalami ilmu
tersebut dan tidak ada kata terlambat bagi sebahagian dari kita yang belum
mempelajari ilmu tersebut, selagi nafas belum di penghujung kerongkongan maka
selama itu pula ilmu Allah bisa masuk ke dalam setiap jiwa yang membaca dan
mempelajarinya.
Di era
modern ini, ramai dari orang-orang kafir yang memeluk Islam, setelah mereka
mendengar dan mengkaji isi Al-Qur’an secara jujur. Diantara mereka adalah Yusuf
Islam (Cat Steven), Staven Johnson, Ph.D, Jamil Bronson, Dawud Zwing, Harun
Bear, Ahmad Von Denver, dan masih banyak lagi. Sementara bagi kita umat
muslim, sebaliknya Al-Qur’an merupakan sumber kekuatan (Aziz), pelita (Nur),
petunjuk (hudan), terapi penyakit (Syifa’), nasihat (mauzhah), berita gembira (basyir),
rahmat, keberkahan (mubarak), dan hal
lain yang membahagiakan lainnya, karena mereka mengimani kitab suci ini.[1]
Hal ini sejalan dengan firman Allah swt., di awal bagian ini. Generasi
sahabat dahulu dikenal sebagai generasi yang kasar dan terbelakang. Namun
kemudian Ak-Qur’an mengangkat mereka menjadi generasi yang memiliki sifat
lembut dan penuh kasih sayang serta erat dengan persaudaraan. Hingga perlanjut
kepada generasi pascasahabat hingga saat ini. Hal ini dikarenakan mereka
mengimami Al-Qur’an secara bulat dan mencintainya secara tulus. Mereka
menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk mereka dalam beraktivitas dan menjalani
kehidupan di dunia ini. Itulah kenapa sifat-sifat mereka bisa berubah
sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri yakni menyejukkan hati setiap orang yang
membaca dan mendengarnya. Sama halnya dengan orang-orang yang bersama dengan
mereka dapat menyejukkan kerasnya hati. Maka dari itu kawan, marilah kita
membiaskan diri untuk menghidupkan waktu-waktu bersama Al-Qur’an. Cintailah ia
sebagaimana kita mencintai Allah dan Rasul-Nya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai
buku deary yang selalu siap kita tuliskan keluh kesah kita dalam menjalani kehidupan
ini. Jadikanlah ia sebagai sahabat yang selalu siap menjadi tempat sandaran
untuk kita dikala sedih dan gembira. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai solusi yang
selalu menuntaskan permasalahan-permasalahan hidup yang kita jalani. Ketika hidup kita sudah
dipenuhi dengan warna-warni Al-Qur’an maka di saat itulah kita telah
menghidupkan sunah Rasulullah saw., dan membuat musuh-musuh kita bertekuk lutut
karena putus asa ingin menghancurkan kita dan umat Islam di dunia. Dengan
membaca Al-Qur’an dan menghidupkan malam-malam bersamanya kita sudah membantu
para pendakwah atau ulama-ulama yang mempertahankan benteng peradaban Islam
yang setiap harinya selalu digrogoti oleh musuh-musuh kita. Melalui bacaan-bacaan kita yang
terkadang kurang Fasih ataupun masih terbata-bata, kita telah menyumbangkan
kekuatan untuk umat Islam dalam memerangi gencatan-gencatan musuh-musuh kita
yang menyerang kita dengan bentuk yang beraneka macam, seperti handphone, TV,
game, Film, Fun , dan lain sebagainya yang misinya ingin menjauhkan kita dari
gemar membaca Al-Qur’an. Semoga kita semua termasuk Anda yang
sedang membaca ini tetap istiqomah menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat dunia
dan akhirat serta tetap semangat dalam membaca, mempelajari dan mengamalkannya.
Serta manghafalnya. Semoga
tulisan singkat dari hamba Allah yang fakir dengan ilmu pengetahuan ini dapat
bermanfaat dan bisa menyadarkan kalian tentang arti penting menjaga Al-Qur’an
dan membiaskan diri untuk membacanya. Serta dapat menumbuhkan kecintaan kalian
kepada Al-Qur’an. Terakhir semoga Al-Qur’an akan
senantiasa bersama kita baik di dunia, di alam kubur, dan di akhirat nanti
serta menjadi penolong kita di mana tidak ada penolong selain dari Allah swt. Aamiin.
[1] Ahmad
Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca,
Menulis, dan Mencintai Al-Qur’an. ( Jakarta:2004), Gema Insani.
Komentar
Posting Komentar