Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
hai sobat ily, gimana kabarnya? semoga baik, Aamiin.
Nah, sesuai janji kali ini ily akan melanjutkan
tulisan dengan tema yang masih sama yakni keutamaan
orang-orang yang membaca Al-Qur'an.
panasaran bagaimana keutamaannya?
Mari, lanjutkan membacanya...
hai sobat ily, gimana kabarnya? semoga baik, Aamiin.
Nah, sesuai janji kali ini ily akan melanjutkan
tulisan dengan tema yang masih sama yakni keutamaan
orang-orang yang membaca Al-Qur'an.
panasaran bagaimana keutamaannya?
Mari, lanjutkan membacanya...
Laksana Utrujjah dan
Bintang-bintang
“Perumpamaan orang beriman yang
membaca Al-Qur’an itu seperti utrujjah (jeruk wangi). Baunya sedap dan rasanya
pun enak. Orang yang beriman yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah kurma.
Tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Orang
munafiq yang membaca Al-Qur’an bagaikan kemangi. Baunya sedap tapi
rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al-Qur’an laksana
bratawali(sejenis labu). Tidak ada baunya dan rasanya pahit.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Menyambung pada bagian sebelumnya tentang
membiasakan diri untuk senantiasa bersama Al-Qur’an. Kali ini saya menghadirkan
kepada Anda tentang keutaman dan kebaikan yang diperoleh saat kita menjadikan
Al-Qur’an sebagai bacaan kita sehari-hari. Membaca
Al-Qur’an berbeda dengan membaca bacaan lainnya. Jika kita membaca majalah atau
koran, nilai positif yang kita dapatkan adalah bertambahnya pengetahuan dan
wawasan keilmuwan kita. Berbeda dengan Al-Qur’an, selain dapat menambah wawasan
keilmuwan tentang hukum Al-Qur’an kita juga mendapat reward langsung dari Allah
swt., berupa pahala yang in syaa Allah akan
menjadi penolong kita di saat tidak ada pertolongan selain pertolongan dari
Allah swt., dan amal kita.
Mendapatkan
pahala membaca Al-Qur’an bukan hanya diperuntukkan kepada mereka yang fasih membacanya.
Tetapi, yang terbata-bata pun akan diberi ganjaran berupa pahala dua kebaikan.
Apalagi yang lancar, fasih dan bagus bacaannya tentu akan mendapatkan ganjaran
yang tak hingga di sisi-Nya.
Membaca Al-Qur’an
merupakan awal dari pengungkapan rasa cinta kita kepada Allah swt., dan sebagai
rasa syukur kita karena telah diberi sebuah petunjuk yang tidak dapat
menyesatkan manusia yakni Al-Qur’an. Sebagaimana Khutbah Rasulullah saw., pada
saat menunaikan haji wada’, “Aku tinggalkan kepada kalian kitabullah, apabila
kalian berpengang maka tidak akan tersesat selamanya.”
Berdasarkan hadits di atas, kita dapat
menyimpulkan bahwa keutamaan kita sebagai umat muslim apabila membaca Al-Qur’an
laksana buah utrujjah, baunya sedap dan rasanya manis. Kita bisa membayangkan
bagaimana nikmatnya ketika mencicipi buah tersebut. Saat sedang mencicipi
tentulah kita ingin mencicipi kembali dan begitu seterusnya. Begitu pula dengan
membaca Al-Qur’an, ketika kita merasakan nikmatnya membaca Al-Qur’an tentu kita
ingin alpa dari berinteraksi dengannya setiap hari. Keinginan terus bersamanya
selalu kita rindukan dan jika tidak membacanya kita merasakan kesepian yang
mendalam. Bukan kesepian yang biasa kita rasakan saat ditinggal seseorang,
melainkan kesepian batin yang sangat sukar untuk kita jelaskan. Karena
nikmatnya kebersamaan dengannya dan sepinya tanpanya hanya bisa kita rasakan di
dalam hati terdalam.
Dari hadits di atas, Rasulullah saw.,
memberikan apreasiasi, motivasi, dan segesti kepada umat muslim untuk senantiasa
membiasakan diri membaca Al-Qur’an. Melalui keutaman-keutamannya Rasulullah
saw., menjelaskan.
Pertama, nilai
pahala. Seperti yang sudah saya singgung di awal bahwa membaca Al-Qur’an akan
mendapatkan ganjaran berupa pahala yang nilainya hanya Allah swt., yang tahu.
Pahala yang diberikan Allah swt., bukan tiap kalimat, juga bukan tiap kata
melainkan tiap huruf. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits, bahwa yang
dimaksud satu huruf bukanlah alif lam mim, melainkan alif satu kebaikan , mim
satu kebaikan, dan lam satu kebaikan. Maa
Syaa Allah begitu luasnya perbendaharaan pahala yang diberikan kepada umat
Islam, namun dengan pahala yang banyak ini kita masih sering lalai untuk
mengerjakannya.
Sahabat
Abu Hurairah menceritakan hadits Rasulullah saw., “Adakah kalian suka pulang ke rumah membawa tiga ekor unta yang besar
dan gemuk?” tanya Rasulullah kepada penghuni serambi (shuffah) masjid nabawi.
“Kami semua suka!”, jawab mereka. Beliau melanjutkan, “Tiga ayat yang dibaca
salah seorang dari kamu di dalam shalatnya jauh lebih baik daripada tiga ekor
unta yang besar dan gemuk.” (HR. Muslim, Taisirul Wushul I : 84)
kedua, obat(terapi) jiwa yang gundah.
Membaca Al-Qur’an bukan saja amal ibadah yang apabila mengerjakannya akan
mendapatkan pahala. Lebih dari itu, seperti yang telah saya katakan kita akan
merasakan nikmat dan ketenangan saat membacanya. Nikmat dan ketenangan ini
hanya bisa kita rasakan sendiri-sendiri saat bersama dengannya. Percayalah saat
Kita membaca Al-Qur’an, otak kita akan berfungsi menjadi positif, energi-energi
negatif yang ada di jiwa kita perlahan memudar dan hancur oleh adanya energi
positif yang datang dari pancaran gelombang suara bacaan Al-Qur’an kita.
Kalau sudah
demikian yang adanya, tidak menutup kemungkinan kita kaan merasakan ketenangan,
kenyamanan, dan kebahagian yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Membaca
Al-Qur’an ibarat kita sedang berkomunikasi dengan Allah swt. Anda mungkin sudah
jauh berpengalaman tentang cara menenangkan diri dengan berkomunikasi dengan
orang lain. Jika dengan itu kita bisa kembali tenang, lantas bagaimana jika hal
itu kita ubah menjadi membaca Al-Qur’an yang sama dengan berkomunikasi dengan
Allah swt. Tentu yang kita rasakan jauh lebih baik lagi ketimbang kita
berkomunikasi dengan orang lain.
Saat
bersedih, ingatlah Al-Qur’an dan bacalah kalam-Nya yang suci tersebut. Sebab
dengan membacanya lah kita bisa mengobati hati kita yang tenagh meringkuk
dengan panasnya kehidupan. Kita pasti tahu bahwa segala kesedihan berasal dari
Allah, jika ia maka Al-Qur’an adalah solusinya. Karena Al-Qur’an adalah
mlik-Nya, perkataan-Nya dan obat mujarab bagi segala penyakit. Jika penyakit
itu berasal dari Allah swt., lantas kenapa kita tidak ingin mengobatinya dengan
membaca kalam-Nya yang isinya merupakan obat bagi segala penyakit.
Ingatlah
bahwa Al-Qur’an adalah obat yang tidak pernah membuat pemakaianya overdosis.
Semakin banyak kita membacanya semakin tenang jiwa kita, semakin sedikit kita
membacanya semakin sedikit ketenangan kita.
Ketiga, memberikan syafa’at. Hidup
ini hakikatnya adalah tanaman untuk dipanen di akhirat. Jika kita menanamnya
dengan bibit yang berkualitas maka kita akan memetiknya dengan hasil yang
berkualitas dan begitulah sebaliknya. Akan tetapi, ketika kita sampai di negeri
akhirat, pernahkah kita membayangkan bagaimana paniknya kita saat berada di
tanah lapang yang luasnya hanya Allah yang tahu, dan di sana semua orang
kebingungan mencari tempat berteduh dan perlindungan dari sengatan matahari
yang dekatnya sejengkal dari kepala kita.
Ketika keadaan panik itulah, Al-Qur’an
hadir kepada mereka orang-orang yang di dunia senantiasa membacanya,
mengingatnya, dan mengamalkannya. Inilah manfaatnya membaca Al-Qur’an, ia akan
menjadi penolong dimana tidak ada pertolongan selain Allah, ia akan memberikan
syafa’at di saat kita kebingungan.
Sabda Rasulullah saw., “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia
pada hari kiamat akan hadir memberikan pertolongan kepada orang-orang yang
membacanya.” (HR. Muslim).
Keempat, menjadi Nur di dunia sekaligus menjadi simpanan di akhirat. Sering membaca
Al-Qur’an akan memberikan efek positif pada jasmani dan rohani orang-orang yang
membacanya, bagi fisiknya seseorang akan terlihat awat muda, berseri-seria,
ceria, dan hidupnya terlihat senantiasa bahagia. Bagi rohaninya, ia senantiasa
diliputi kebahagiaan dan kelurusan dalam menata hidup, sebab kehidupannya
senantiasa dibimbing Al-Qur’an ke jalan yang Allah Ridhoi, yakni jalan yang
lurus.
Nur
nya di dunia tampak pada kehidupannya yang senantiasa bahagia dan sejahtera.
Sebab Al-Qur’an membimbing jiwa dan ruhnya dengan pelajaran yang baik yang mana
pelajaran tersebut berasal dari Allah swt.
Di
akhirat, Al-Qur’an menjadi penolongnya dan syafa’at baginya. Membaca Al-Qur’an
merupaka ibadah yang paling Allah swt cintainya dan Allah akan menaikan
seseorang yang istiqomah membacanya ke derajat yang Allah swt., inginkan.
Bahkan yang luar biasanya lagi, jika kita menghafalnya maka kebaikannya bukan
hanya untuk diri kita tetapi untuk keluarga kita.
Simpanlah hartamu sebaik-baiknya
di dunia, tetapi ingat bahwa simpanan yang kekal adalah simpanan kita yang ada
di akhirat. Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu dari simpanan kita di
akhirat.
Sabda Rasulullah saw., “Bacalah selalu Al-Qur’an, sesungguhnya ia
menjadi cahaya bagimu di bumi dan menjadi simpanan bagimu di langit.” (HR.
Ibnu Hibban)
Kelima,
malaikat turun memberikan rahmat dan ketenangan. Siapa yang tidak menginginkan
rahmat dan ketenangan dari Allah swt., tentunya semua orang menginginkannya.
Jika benar, bacalah Al-Qur’an sebab dengan membaca Al-Qur’an suara kita akan
menembus lapisan langit dan menggema di pendengaran malaikat rahmat. Sehingga
malaikat tersebut turun ke rumah orang-orang yang membacanya untuk memberikan rahmat
dan ketenangan padanya.
Al-Qur’an laksana cahaya
yang menyinari jiwa pembacanya, sama halnya dengan rumah yang hanya bisa
diterangi dengan cahaya lampu. Bedanya lampu biasa hanya menerangi gelap rumah,
namun tidak bisa menyinari gelap pemilik rumah tersebut. Sedangkan Al-Qur’an,
ia dapat menyinari gelapnya hati pemilik rumah sekaligus rumahnya atau tempat
tinggalnya.
Di
dalam hadits disebutkan bahwa rumah yang didalamnya senantiasa bergema dengan
bacaan Al-Qur’an maka akan banyak kebaikannya, begitu pula sebaliknya jika di
rumah yang tidak ada menggema suara bacaan Al-Qur’an maka tidak ada kebaikkan
di dalamnya. Rumah yang di dalamnya senantiasa terdengar bacaan Al-Qur’an
ibarat bintang-bintang yang germerlap menghiasi penduduk bumi, semakin sering
membacanya semakin gemerlap bintang-bintang tersebut. Semakin sedikit
membacanya semakin redup bintang-bintang
tersebut bahkan bisa saja menghilang seperti malam tanpa ada bintang dan
rembulan, sepi dan gelap.
Kita
semua sepakat bahwa ayat pertama yang diturunkan Allah swt kepada Nabi
Muhammada saw., adalah perintah membaca (Iqra’). Dari sini tersirat betapa
pentingnya membaca, terlebih lagi membaca Al-Qur’an. Karena membaca Al-Qur’an
adalah bacaan yang paling bagus yang di dalamnya banyak terkandung asma’ Allah.
Di dalam membaca Al-Qur’an
adalah unsur terpenting selain dari membacanya itu sendiri. Yakni
berkesinambungan, terus-menerus atau istiqomah. Karena amala ibadah yang Allah
swt., sukai adalah yang dilakukan dengan Istiqomah. Adalah yang lebih penting
jika kita memulainya dengan bagian yang sedikit asalkan terus menerus dibanding
membacanya dengan banyak tetapi hanya dilakukan seminggu sekali, atau sebulan
sekali atau bahkan setahun sekali dan yang lebih rugi lagi seumur hidup sekali.
Bacalah
Al-Qur’an dengan berkesinambungan walaupun sedikit nanti lama-kelamaan akan
menjadi bukit dan lama-kelamaan akan menjadi gunung yang tinggi lagi sejuk.
Misalnya setiap hari kita membaca seperempat atau setengah juz yang
lama-kelamaan akan khatam dibanding dengan membaca sekali langsung khatam
tetapi dilakukan setahun sekali.
dengan membaca Al-Qur’an
dengan rutin, suata saat orang akan khatam kitab suci yang terdiri dari 30 juz,
114 surah, dan 6666 ayat tersebut. setelah khatam, berangkat memulai kembali
dan seterusnya hingga akhir hayatnya. Di saat khatam, orang yang rutin membaca
Al-Qur’an memiliki doa yang ampuh. Berdoa apa saja pada saat itu, In syaa
Allah, mudah dikabulkan. Akhirnya
membaca Al-Qur’an perlu dijadikan sebagai makanan sehari-hari yang tidak bosan
untuk senantiasa dimakan. Karena membaca Al-Qur’an merupakan jembatan awal
untuk memahami, memepelajari, mengamalkan, dan menghafal Al-Qur’an.
Demikianlah, tulisan singkat ini semoga bisa bermanfaat bagi
kita semua terutama dapat menjadi wadah motivasi untuk senantiasa hidup bersama
Al-Qur’an dan kehidupan dipenuhi dengan Al-Qur’an. Sebab percayalah
satu-satunya aktivitas yang tidak pernah membuat seseorang stress adalah
membaca Al-Qur’an. Bahkan dapat meraih ketenangan dalam menjalani kehidupan di
dunia dan menjadi kebahagian di akhirat.
Jika diibaratkan jamuan,
Al-Qur’an merupakan jamuan istimewa. Semakin dicicipi jamun Tuhan ini semakin
terasa lezat. Tidak ada ungkapan kadaluwarsa atau pun basi pada jamuan Tuhan
ini. Ia tetap hit, pouler, dan digemari.
Semoaga
kita semua senatiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sekaligus pasangan
dalam hidup kita yang paling kita cintai, sayangi, dan dirindukan. Dan semoga
Al-Qur’an akan senantiasa membimbing kita ke jalan yang Allah swt., Ridhoi. Aamiin

Komentar
Posting Komentar